Menperin: Kawasan Industri Tak Lagi Jual Lahan, Kini Jual Kecepatan dan Kepastian Investasi

KABAREKONOMI.CO.ID, JAKARTA – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa daya saing kawasan industri Indonesia tidak lagi ditentukan oleh luas lahan yang tersedia, melainkan oleh kemampuan menghadirkan kecepatan, kepastian, dan ekosistem investasi yang kompetitif. Karena itu, menurutnya, yang dijual kawasan industri saat ini bukan lagi lahan, melainkan waktu.

Pesan tersebut menjadi benang merah pidato Menteri Perindustrian saat membuka Business Forum dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-25 Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) di Hotel Pullman Jakarta, Kamis (30/7). Di hadapan para pengelola kawasan industri dari seluruh Indonesia, Agus mengajak seluruh pemangku kepentingan mengubah cara pandang terhadap kawasan industri di tengah semakin ketatnya persaingan investasi global.

Bacaan Lainnya

Menurut Agus, kompetisi investasi dunia telah mengalami perubahan mendasar. Investor tidak lagi hanya membandingkan Indonesia dengan negara lain, tetapi membandingkan satu kawasan industri dengan kawasan industri lain di berbagai negara. Sebuah kawasan industri di Jawa Barat, Jawa Tengah, atau Jawa Timur, misalnya, kini bersaing secara langsung dengan kawasan industri di Vietnam, Thailand, Malaysia, India, maupun Meksiko.

“Unit persaingan ekonomi dunia telah bergeser. Persaingan bukan lagi hanya negara melawan negara, tetapi kawasan industri melawan kawasan industri. Pada akhirnya, daya saing industri nasional sangat ditentukan oleh kemampuan kawasan industri memberikan nilai tambah kepada investor,” ujar Agus.

Dalam pidatonya, Menteri Perindustrian menyampaikan tiga pesan utama kepada seluruh pengelola kawasan industri di Indonesia.

Pesan pertama adalah bahwa Indonesia saat ini sedang menikmati window of opportunity yang tidak akan terbuka selamanya. Fragmentasi perdagangan global, restrukturisasi rantai pasok dunia, serta dinamika geopolitik telah mendorong banyak perusahaan multinasional mencari lokasi produksi baru.

Bagi Indonesia, kondisi tersebut merupakan peluang besar untuk memperkuat posisi sebagai basis produksi manufaktur dunia. Namun Agus mengingatkan, perusahaan-perusahaan global tidak akan menunggu kesiapan Indonesia. Mereka membandingkan berbagai alternatif lokasi investasi dalam hitungan bulan, bahkan minggu.

“Jendela peluang ini tidak akan terbuka selamanya. Negara dan kawasan industri yang paling siaplah yang akan memenangkan investasi,” tegasnya.

Pos terkait