Dalam pengembangan tersebut, TPK Batu Ampar direncanakan mendapat tambahan enam unit STS Crane jenis Panamax.
Penambahan peralatan bongkar muat itu ditargetkan meningkatkan kapasitas operasional terminal hingga mencapai 2 juta TEUs.
Langkah tersebut dinilai strategis untuk mengantisipasi pertumbuhan arus barang sekaligus memperkuat posisi Batam sebagai pusat logistik dan perdagangan di jalur Selat Malaka.
Bagi dunia usaha, peningkatan kapasitas pelabuhan dan kecepatan layanan menjadi faktor penting dalam menjaga efisiensi distribusi barang. Semakin singkat waktu kapal berada di pelabuhan, semakin besar peluang penurunan biaya dan waktu dalam rantai pasok.
Benny menegaskan pengembangan TPK Batu Ampar juga diarahkan untuk mendukung konektivitas perdagangan internasional melalui layanan direct call.
“Peningkatan kapasitas dan produktivitas pelabuhan akan memperkuat konektivitas logistik, mendukung direct call internasional, serta diharapkan memberikan kontribusi terhadap efisiensi dan penurunan biaya logistik nasional,” katanya.
Dengan posisi geografis Batam yang berada di kawasan strategis Selat Malaka dan berdekatan dengan pusat perdagangan regional, penguatan TPK Batu Ampar dinilai memiliki nilai ekonomi yang lebih luas.
Transformasi pelabuhan tersebut diharapkan mampu memperkuat ekosistem industri Batam, meningkatkan daya saing investasi, memperlancar arus ekspor-impor, sekaligus menjadikan Batam semakin kompetitif sebagai hub logistik internasional. (Iman Suryanto)











