Menurut Fandy, Batam memiliki posisi strategis sebagai kawasan industri dan pusat pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut membuat perguruan tinggi vokasi memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan lulusan yang dihasilkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kompetensi praktis dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan teknologi.
“Kami ingin membangun pendidikan yang tidak berhenti di ruang kelas. Mahasiswa harus mendapatkan pengalaman belajar yang dekat dengan persoalan nyata, memiliki kesempatan melakukan riset terapan, berinteraksi dengan industri, dan pada saat yang sama mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat,” ujarnya.
Dari MoU Menuju Program Nyata
Kerja sama Poltevara dan Polibatam diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen kerja sama. Kedua institusi akan mendorong tindak lanjut dalam bentuk program yang konkret dan terukur.
Kolaborasi tersebut dapat mencakup program akademik bersama, pengembangan kompetensi dosen dan mahasiswa, penelitian kolaboratif, seminar dan konferensi, pengembangan inovasi dan teknologi, serta program pengabdian masyarakat.
Sinergi ini juga diharapkan dapat memperluas kesempatan mahasiswa untuk belajar dari lingkungan akademik yang lebih beragam sekaligus mendapatkan pengalaman dalam menyelesaikan persoalan nyata.
Bagi Poltevara, kerja sama dengan Polibatam menjadi bagian dari visi untuk membangun perguruan tinggi vokasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, kuat dalam praktik, dekat dengan industri, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Dengan semangat kolaborasi, kedua institusi berharap kerja sama ini dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat posisi Batam sebagai salah satu pusat pendidikan vokasi dan pengembangan talenta di Indonesia.
“Kolaborasi hari ini adalah investasi untuk menyiapkan talenta masa depan,” tutup Fandy. (****)











