OJK Soroti Risiko Global, Indonesia Bertahan dengan Pertumbuhan 5,04 Persen

KABAREKONOMI.CO.ID, BATAM – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, mengingatkan bahwa perekonomian global saat ini berada dalam posisi yang stabil tetapi rapuh, meski sejumlah indikator menunjukkan pergerakan positif.

Menurutnya, dunia masih berada pada fase transisi yang penuh ketidakpastian, terutama karena pemulihan global tidak berlangsung merata dan masih dibayangi berbagai risiko eksternal.

Bacaan Lainnya

Mahendra menjelaskan bahwa salah satu penopang stabilitas saat ini adalah menguatnya kembali aktivitas manufaktur di negara-negara maju. Selain itu, arah kebijakan moneter global mulai bergeser menjadi lebih akomodatif, seiring sejumlah bank sentral melakukan penyesuaian suku bunga untuk menjaga momentum pertumbuhan.

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa faktor-faktor tersebut belum cukup kuat untuk memastikan prospek pemulihan global yang benar-benar solid.

“Proses pemulihan masih berjalan, tetapi perdagangan dunia cenderung mendatar dan konsumsi global tetap tertahan. Ini membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi global belum sepenuhnya meyakinkan,” ujar Mahendra dalam jumpa pers mengumumkan hasil rapat Dewan Komisioner Bulanan pada Kamis (11/12/2025) pagi.

Lebih jauh, Mahendra memaparkan bahwa pasar keuangan internasional masih bergerak hati-hati karena sejumlah tekanan eksternal yang muncul sepanjang tahun. Risiko fiskal Amerika Serikat menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar, khususnya setelah negara tersebut mengalami penutupan pemerintahan (government shutdown) selama 43 hari, yang mengguncang persepsi terhadap stabilitas fiskal dan keandalan kebijakan ekonomi AS.

Selain itu, volatilitas imbal hasil obligasi global juga meningkat. The Federal Reserve memang telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, namun langkah tersebut disertai sinyal hawkish yang menunjukkan adanya kehati-hatian terhadap tekanan fiskal dan inflasi ke depan. Pada saat yang sama, kenaikan yield jangka panjang di Tiongkok menambah tekanan terhadap pasar keuangan global dan menjadi indikator bahwa ekonomi negara tersebut masih menghadapi tantangan struktural.

Di tengah dinamika tersebut, indikator permintaan global menunjukkan performa di bawah ekspektasi. Mahendra menyebut konsumsi rumah tangga di banyak negara belum sepenuhnya pulih. Bahkan di sebagian negara, permintaan domestik yang lesu menjadi hambatan utama bagi percepatan pemulihan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *