Misi utama Ketua Umum dan Ketua DK PWI Pusat terbang jauh-jauh dari Jakarta ke Batam—yang semula kami harapkan membawa angin damai dan menyelesaikan kemelut—justru menancapkan belati luka baru. Apresiasi yang kami harapkan berujung pada vonis mati sepihak yang sangat menyakitkan.
“Merekrut peserta UKW itu melawan. Pilih salah satu. Ndak apa-apa kok, bebas. Karena dia akan menghimpun kekuatan di luar untuk merebut kekuasaan dua tahun lagi. Dan itu insubordinasi,” tegas Munir dengan kalimat yang menghujam jantung kami.
Kata-kata itu terus terngiang di telinga saya, menyisakan tanya yang teramat perih. Sejak kapan ruang pengabdian jurnalisme disempitkan menjadi ketakutan picik akan perebutan kekuasaan? Di mana lagi tempat bagi ketulusan, jika pertanyaan kritis seorang senior dibalas bentakan pengusiran, dan niat mencerdaskan wartawan di beranda negeri justru dianggap sebagai ancaman kudeta?
Malam itu, kami berjalan pulang menembus kegelapan Batam. Kami tidak hanya membawa draf rencana UKW yang kini telantar dan yatim piatu, tetapi kami pulang membawa hati yang lebam, remuk oleh keangkuhan seorang pemimpin yang telah kehilangan rasa hormat terhadap anggotanya sendiri.










