Yang sama bukan bentuk organisasinya.
Yang sama adalah kemampuannya membangun arah jangka panjang, mengoordinasikan sumber daya, belajar dari pengalaman, mendisiplinkan pelaku ekonomi, dan mengubah kebijakan ketika cara lama tidak lagi memadai.
Ini penting karena keluar dari middle-income trap bukan peristiwa yang lazim. Bank Dunia mencatat bahwa sejak 1990 hanya 34 negara berpendapatan menengah yang berhasil naik menjadi negara berpendapatan tinggi. Pada akhir 2023, masih terdapat 108 negara dalam kelompok pendapatan menengah, yang dihuni sekitar enam miliar penduduk. Lebih dari sepertiga dari 34 negara yang berhasil tersebut pun memperoleh keuntungan khusus dari integrasi dengan Uni Eropa atau penemuan sumber minyak baru.
Menjadi negara berpendapatan menengah ternyata relatif mungkin. Membangun jalan, memperluas listrik, menambah tenaga kerja, menarik investasi, dan memindahkan penduduk dari pertanian berproduktivitas rendah menuju industri dapat mempercepat pertumbuhan.
Kesulitan muncul setelah biaya tenaga kerja meningkat, urbanisasi melambat, tambahan modal memberikan hasil yang semakin kecil, dan teknologi sederhana sudah tersebar luas.
Pada titik tersebut, negara tidak lagi cukup bekerja lebih banyak. Negara harus mampu bekerja dengan cara yang berbeda.
Ketika investasi tidak lagi cukup
World Development Report 2024 menjelaskan transformasi menuju negara maju melalui strategi “3i”: investment, infusion, dan innovation. Pada tahap awal, negara dapat tumbuh dengan investasi. Pada tahap berikutnya, investasi harus disertai kemampuan menyerap dan menyebarkan teknologi dari luar.
Ketika memasuki kelompok pendapatan menengah atas, negara harus menambahkan inovasi—bukan hanya menggunakan teknologi yang diciptakan negara lain, tetapi mulai ikut mendorong batas teknologi.
Inilah titik peralihan yang paling sulit.
Pengalaman Korea Selatan menunjukkan bahwa sekitar 90,9 persen perlambatan pertumbuhan pendapatan per kapita pada kelompok negara yang terjebak dijelaskan oleh penurunan total factor productivity atau TFP.
Investasi tetap penting, tetapi modal fisik bukan faktor yang membedakan negara yang berhasil keluar dari jebakan dengan negara yang tertahan di dalamnya. Pembeda utamanya adalah produktivitas dan modal manusia.
Pelajarannya sederhana, tetapi sering kita abaikan: pertanyaannya bukan hanya berapa besar investasi yang masuk, melainkan kemampuan apa yang ditinggalkannya.
Apakah investasi membangun pemasok domestik? Apakah terjadi transfer teknologi? Apakah tenaga kerja Indonesia naik kelas? Apakah perusahaan lokal mampu merancang produk sendiri? Apakah produktivitas meningkat setelah insentif diberikan?
Jika jawabannya tidak, investasi mungkin menambah pertumbuhan hari ini, tetapi belum tentu membangun kemampuan untuk esok hari.
