OPINI Lukita Dinarsyah Tuwo: Bukan Real Madrid, Bukan Milan: Dunia Kini Menoleh ke Como—dan Ada Indonesia di Baliknya

Mengapa Como Dicintai Warganya?

Klub sepak bola tidak dicintai hanya karena menang. Kemenangan dapat mendatangkan penonton baru, tetapi rasa memiliki lahir ketika masyarakat merasa klub tersebut benar-benar menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Bacaan Lainnya

Como mencoba menjaga hubungan itu.

Ketika stadionnya belum memenuhi persyaratan Liga Champions, klub sebenarnya terancam harus memainkan pertandingan kandang sekitar 200 kilometer dari Como. Namun, renovasi besar diselesaikan hanya dalam waktu sekitar 90 hari. Tribun diperbaiki, sistem penerangan, keamanan, fasilitas media dan toilet ditingkatkan, serta lapangan diperlebar dan dipasangi rumput hibrida. Stadion Giuseppe Sinigaglia akhirnya memperoleh status Kategori 4 UEFA sehingga pertandingan Liga Champions tetap dapat berlangsung di Kota Como.

Keputusan itu memiliki makna lebih besar daripada sekadar pemenuhan standar teknis. Liga Champions tidak dipindahkan dari masyarakat yang telah menunggu dan mendukung Como selama puluhan tahun.

Menjelang pertandingan pertama Como di Liga Champions, kapasitas stadion terbatas dan tiket telah habis terjual. Mirwan dan sejumlah pengurus klub kemudian menyerahkan kursi mereka kepada pendukung lanjut usia yang lahir pada 1950 atau sebelumnya—mereka yang tetap mendukung Como ketika klub masih berada di divisi-divisi bawah.

Pesannya sederhana, tetapi kuat: ketika masa kejayaan akhirnya tiba, mereka yang bertahan pada masa sulit tidak boleh dilupakan.

Como juga membangun berbagai program melalui Fondazione Como ETS. Programnya mencakup pendidikan, inklusi, olahraga untuk semua, kesehatan, keberlanjutan lingkungan, serta pelibatan masyarakat. Klub mendukung renovasi lapangan bagi anak-anak, kegiatan untuk kaum muda dan penyandang disabilitas, bantuan bagi tunawisma ketika musim dingin, program bagi anak penderita leukemia, serta kampanye melawan kekerasan berbasis gender.

Karena itu, masyarakat tidak hanya menyaksikan klubnya naik kelas. Mereka merasa ikut dibawa naik bersama klub.

Tentu saja, hubungan tersebut tidak selalu bebas ketegangan. Kebijakan baru mengenai penggunaan tiket musiman sempat dikritik sebagian pendukung karena dianggap terlalu ketat. Hal ini menunjukkan bahwa kesuksesan juga menciptakan persoalan baru: permintaan tiket meningkat, ruang stadion terbatas, wisatawan berdatangan, dan kepentingan komersial harus diseimbangkan dengan hak pendukung lokal.

Namun, kritik itu tidak menghapus pelajaran besarnya. Klub yang ingin dicintai tidak cukup hanya membangun tim juara. Ia harus membangun kepercayaan dan memberikan manfaat kepada kotanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *