Apa Artinya bagi Indonesia?
Como memberikan kebanggaan yang agak berbeda bagi Indonesia.
Selama ini, kebanggaan olahraga kita umumnya muncul ketika atlet Indonesia memenangkan pertandingan atau mengibarkan Merah Putih. Di Como, kebanggaan itu lahir dari kemampuan orang Indonesia membangun institusi di lingkungan yang sangat kompetitif.
Indonesia hadir bukan sebagai penonton, sponsor kecil, atau pasar penjualan kaus. Indonesia hadir sebagai pemilik visi, pengambil keputusan, pengelola transformasi, dan pembangun ekosistem.
Pelajarannya bahkan melampaui sepak bola.
Como menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu mengelola organisasi berstandar internasional. Kita mampu merekrut talenta terbaik dari berbagai negara, memberikan mandat secara profesional, membangun merek global, menyatukan olahraga dengan pariwisata dan ekonomi kreatif, serta memperoleh kepercayaan masyarakat lokal di negara lain.
Namun, kebanggaan itu seharusnya tidak berhenti pada kekaguman.
Pertanyaannya adalah: apabila orang Indonesia dapat membantu membangkitkan klub kecil di Italia, mengapa kemampuan yang sama tidak dapat digunakan untuk membangun klub, kota, dan ekosistem olahraga di Indonesia?
Indonesia Membutuhkan “Como-Como” Lain
Indonesia tidak kekurangan klub dengan sejarah panjang. Kita mempunyai Persib Bandung, Persebaya Surabaya, PSM Makassar, PSIM Yogyakarta, Persis Solo, Persija Jakarta, Arema, Bali United, dan banyak klub lain yang memiliki ikatan emosional kuat dengan masyarakatnya.
Indonesia juga tidak kekurangan kota dengan identitas khas. Persija Jakarta, dengan sejarah panjang, basis suporter besar, dan identitas kuat sebagai klub ibu kota, memiliki modal untuk menjadi “Como Indonesia”. Bandung mempunyai kreativitas dan sejarah sepak bola. Surabaya mempunyai keberanian dan basis suporter yang luar biasa. Yogyakarta memiliki budaya, pendidikan, dan pariwisata. Makassar merupakan gerbang Indonesia Timur. Malang, Solo, Bali, Medan, Palembang, dan kota-kota lainnya mempunyai kekuatan masing-masing.
Yang sering belum berhasil kita bangun adalah ekosistemnya.
Klub masih terlalu bergantung pada pemilik, sponsor, APBD pada masa lalu, atau pendapatan pertandingan. Stadion belum dikelola sebagai ruang ekonomi sepanjang tahun. Pembinaan usia muda belum menjadi bagian kuat dari rantai produksi pemain. Hubungan klub, pemerintah kota, UMKM, pariwisata, komunitas kreatif, transportasi, dan industri digital masih berjalan sendiri-sendiri.
Karena itu, membangun “Como-Como” di Indonesia bukan berarti sekadar mencari konglomerat untuk membeli klub. Yang dibutuhkan adalah investor sabar, manajemen profesional, tata kelola transparan, akademi yang kuat, stadion yang aman, serta strategi yang menyatukan klub dengan ekonomi kotanya.
Pertama, setiap klub harus memiliki identitas dan rencana bisnis jangka panjang. Klub tidak boleh hidup hanya dari satu musim kompetisi atau satu figur pemilik.
Kedua, pemerintah daerah harus melihat klub sebagai bagian dari strategi pembangunan wilayah, tetapi bukan dengan mencampuri keputusan teknis atau membebani APBD. Peran pemerintah adalah menyediakan regulasi, infrastruktur, konektivitas, keamanan, dan kerja sama antarpelaku.
Ketiga, stadion harus dikembangkan sebagai pusat kegiatan masyarakat. Stadion dapat menjadi tempat pertandingan, konser, museum klub, pusat olahraga, kawasan kuliner, ritel, pendidikan, serta kegiatan UMKM.
Keempat, klub harus berinvestasi pada pemain muda. Akademi bukan kegiatan sosial tambahan, melainkan fondasi keberlanjutan prestasi dan bisnis.
Kelima, pendukung harus ditempatkan sebagai pemilik emosional klub. Mereka bukan sekadar pembeli tiket. Mereka harus memperoleh ruang dialog dan menjadi bagian dari perjalanan klub, termasuk ketika keputusan sulit harus dibuat.
Keenam, Indonesia perlu membangun industri olahraga sebagai industri sungguhan: memiliki data, standar pengelolaan, pembiayaan, perlindungan investor, hak siar yang sehat, kompetisi yang kredibel, serta ukuran dampak ekonomi dan sosial.
Kebanggaan yang Harus Diubah Menjadi Keyakinan
Como tidak memberi kita alasan untuk merasa bahwa Indonesia telah memenangkan sepak bola Eropa. Kesimpulan seperti itu terlalu berlebihan.
Namun, Como memberi bukti bahwa bangsa Indonesia dapat berpikir besar, bekerja profesional, dan diterima di panggung internasional.
Hal yang paling menarik bukan semata-mata karena Como berhasil masuk Liga Champions. Hal yang lebih penting adalah bagaimana sebuah klub yang pernah bangkrut dibangun kembali, bagaimana kota kecil memperoleh kepercayaan diri, bagaimana masyarakat lama tidak ditinggalkan, dan bagaimana olahraga dihubungkan dengan pariwisata, budaya, industri kreatif, serta kegiatan sosial.
Como mengajarkan bahwa kebangkitan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat dimulai dari institusi kecil yang hampir dilupakan, asalkan ada visi yang jelas, modal yang sabar, pengelola yang kompeten, dan masyarakat yang diajak berjalan bersama.
Indonesia sekarang membutuhkan optimisme semacam itu. Bukan optimisme yang menutup mata terhadap persoalan, melainkan optimisme yang dibangun berdasarkan bukti bahwa perubahan memang dapat dikerjakan.
Kita perlu lebih banyak Como. Bisa di Eropa, Asia, Afrika, atau di tempat lain. Namun, yang jauh lebih penting, kita membutuhkan “Como-Como” di Bandung, Surabaya, Makassar, Yogyakarta, Solo, Malang, Medan, dan berbagai kota Indonesia.
Pada akhirnya, kebanggaan terbesar bukanlah ketika dunia mengetahui bahwa orang Indonesia berada di balik Como.
Kebanggaan terbesar kelak adalah ketika pengalaman Como membantu Indonesia membangun klub-klub yang sehat, kota-kota yang hidup, generasi muda yang percaya diri, dan institusi yang dihormati dunia, sekaligus mengantarkan Tim Nasional Garuda berjaya di kancah internasional, termasuk di Piala Asia dan Piala Dunia.
Como telah menunjukkan bahwa itu mungkin. Dan kita bangga ada Indonesia aktor utamanya.
Sekarang tantangannya adalah membawa keyakinan tersebut pulang ke Indonesia. Tumbuh dan berkembang di Indonesia. Kita yakin bisa.
Jakarta, 18 September 2026
LDT











