OPINI Lukita Dinarsyah Tuwo: Ketika Uang Murah Pulang dan Komoditas Menjadi Mahal (1-2)

Lukita Dinarsyah Tuwo
Lukita Dinarsyah Tuwo

Strategi ini disebut yen carry trade: meminjam dalam mata uang berbunga rendah dan berinvestasi dalam aset berbunga lebih tinggi.

Strategi tersebut menguntungkan selama dua syarat terpenuhi. Pertama, selisih bunga tetap lebar. Kedua, yen tidak menguat secara tajam. Jika salah satu berubah, keuntungan dapat hilang. Jika keduanya berubah bersamaan, investor dapat bergegas menutup posisi.

Bacaan Lainnya

Pada awal September 2026, imbal hasil obligasi Pemerintah Jepang sepuluh tahun menembus 3 persen untuk pertama kalinya dalam sekitar tiga dekade. Pada saat bersamaan, yen sempat menguat hampir 5 persen dalam waktu singkat. Per 17 September, yield tersebut masih bergerak di sekitar 3 persen. Pasar juga memperkirakan Bank of Japan kembali menaikkan suku bunga.

Bagi Jepang, yield 3 persen mungkin terlihat kecil dibandingkan negara berkembang. Namun, bagi ekonomi yang terbiasa dengan bunga mendekati nol, angka itu merupakan perubahan besar. Uang yang sebelumnya harus pergi ke luar negeri untuk mencari hasil kini mulai menemukan alasan untuk pulang.

Ketika investor menutup carry trade, mereka menjual aset di luar Jepang, kemudian membeli yen untuk melunasi pinjamannya. Proses ini disebut unwinding. Ia tidak otomatis menimbulkan krisis, tetapi dapat terjadi serentak dan memperbesar volatilitas. Aset negara berkembang biasanya menjadi salah satu yang pertama ditinjau ulang karena likuid dan relatif mudah dijual.

Kenaikan yield Jepang bukan hanya cerita tentang Jepang. Ia mengubah harga uang dunia. Bahkan usulan indeks baru GPFG Norwegia akan menaikkan porsi obligasi Jepang dari sekitar 4,6 persen menjadi 7,4 persen. Jepang yang selama ini mengekspor modal perlahan dapat kembali menjadi pesaing dalam memperebutkan modal global.

The Fed Kembali Menekan Rem

Tekanan ketiga datang dari Federal Reserve. Pada 16 September 2026, The Fed resmi menaikkan federal funds rate sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen. Keputusan itu diambil secara bulat karena inflasi Amerika dinilai masih terlalu tinggi. Sebagian besar anggota The Fed bahkan memperkirakan setidaknya masih ada satu kenaikan lagi sebelum akhir 2026.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *