Menurutnya, hasil evaluasi sementara menunjukkan mayoritas parameter teknis telah memenuhi standar yang ditetapkan. Bahkan, dari sisi kualitas, kadar air pada B50 diklaim lebih baik dibandingkan biodiesel B40 yang saat ini masih digunakan secara luas.
Pemerintah menyebut sekitar 80–90 persen parameter pengujian teknis telah memberikan hasil memuaskan. Dalam waktu dekat, Kementerian ESDM juga akan menggelar rapat bersama tim uji coba untuk mengevaluasi hasil akhir sebelum implementasi nasional dilakukan.
Dari sisi ekonomi, penerapan B50 diproyeksikan mampu meningkatkan permintaan minyak sawit dalam negeri sehingga memberikan dukungan terhadap stabilitas harga tandan buah segar (TBS) dan memperkuat industri hilir sawit.
Selain itu, peningkatan bauran biodiesel juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor solar sehingga membantu efisiensi devisa negara.
Meski demikian, pelaksanaan program tersebut masih menunggu penyelesaian seluruh tahapan pengujian teknis agar distribusi dan penggunaan B50 dapat berjalan optimal di seluruh Indonesia mulai Juli 2026. (***)










