Sikap kebapakan Sang Jenderal seketika membasuh luka menganga yang sedang kami rasakan di luar sana. Sungguh sebuah ironi yang menyayat hati dan menguji batin. Di saat seorang pemimpin tertinggi kepolisian di Kepri mengulurkan tangannya yang kokoh untuk menopang kami agar tidak jatuh, di luar sana justru ada angin kencang yang sengaja ditiupkan oleh kedengkian untuk merubuhkan langkah kami.
Ada jemari yang sibuk merajut fitnah dalam senyap, ada suara-suara yang melakukan pembusukan karakter, dan ada tangan-tangan yang bergerak gerilya, berupaya keras menggagalkan pelaksanaan UKW ini. Dan yang membuat batin ini terenyuh hingga ke hulu rasa—terasa perih bagai disayat sembilu—mereka yang tega menabur duri di jalan kami bukanlah orang asing. Mereka adalah saudara kandung kami sendiri!
Kami lahir dari rahim profesi yang sama. Kami dibesarkan oleh cita-cita yang sama, dan disumpah di bawah payung kode etik yang mulia. Namun sungguh disayangkan, dalam perjalanan waktu, mereka memilih jalan adab yang berbeda.
Di saat mereka memilih melempar batu dalam kegelapan dan menyusun strategi untuk menjatuhkan, kami memilih menyikapinya dengan keheningan yang bijak. Kami tidak membalas kegaduhan dengan kegaduhan, karena kami percaya iman dan integritas pers bagaikan emas, ia akan tetap berkilau meski terkubur di dalam lumpur yang paling hitam.
Rasanya paripurna sudah air mata dan peluh yang tumpah dalam mempersiapkan UKW yang akan digelar di Hotel CK Tanjungpinang, Sabtu – Minggu (29-30/8/2026) ini. Keyakinan kami kian membubung setelah sebelumnya Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, juga telah menyatakan dukungan penuhnya yang luar biasa.
Maka dari tempat ini, dengan hati yang telah dibilas kelapangan setelah menerima energi magis dari Kapolda Kepri, saya ingin menyapa mereka yang sempat menabur duri di sepanjang jalan kami.
Wahai saudaraku, darah profesi ini jauh lebih kental daripada kebencian sesaat yang mengotori hati. Kami tidak ingin memelihara dendam yang merusak jiwa. Kami justru ingin membuka tangan lebar-lebar dengan segala kerendahan hati.
Kembalilah ke jalan yang benar. Pulanglah ke dalam pelukan ibu kandung profesi ini—ibu yang sejak kecil telah menyusui kita dengan idealisme, mengajari kita arti kesetiaan pada kebenaran, serta integritas yang tanpa batas. Mari kita sudahi keretakan ini, karena rumah besar pers Kepri ini terlalu megah jika harus runtuh oleh ego-ego sektoral yang rapuh. Kita semua adalah satu!
