Kebutuhan keterampilan seharusnya tidak lagi direncanakan terpisah dari investasi. Jika sebuah kawasan akan menerima investasi elektronik, kita seharusnya sudah mengetahui teknisi seperti apa yang diperlukan.
Jika industri baterai berkembang, kebutuhan operator, teknisi listrik, kimia, maintenance, dan digital control dapat diperkirakan. Jika investasi pariwisata masuk ke suatu wilayah, profil keterampilannya tentu berbeda lagi.
Karena itu, prinsipnya seharusnya sederhana: setiap investment pipeline harus memiliki skills pipeline.
SMK, politeknik, balai latihan kerja, program sertifikasi, pemagangan, pemerintah daerah, dan industri harus berada dalam satu peta kebutuhan tenaga kerja.
Indikator keberhasilannya pun tidak cukup hanya menghitung jumlah peserta pelatihan. Kita sudah cukup sering bangga melihat angka peserta yang besar.
Yang lebih penting adalah berapa yang tersertifikasi, berapa yang memperoleh pekerjaan, bagaimana produktivitas dan pendapatannya meningkat, serta berapa kebutuhan tenaga terampil industri yang dapat dipenuhi dari dalam negeri.
Kalau investasi datang tetapi pekerjanya tidak tersedia, kita memperoleh modal tanpa produktivitas. Kalau pekerja dilatih tetapi industri yang menyerapnya tidak ada, kita memperoleh sertifikat tanpa pekerjaan.
Keduanya sama-sama kurang berguna.
Industrialisasi Harus Melampaui Hilirisasi
Strategi berikutnya adalah memastikan investasi menghasilkan industrialisasi yang semakin dalam, ekonomi semakin kompleks.
Hilirisasi tetap penting. Indonesia memang tidak seharusnya terus mengekspor bahan mentah dan membeli kembali produk jadinya dengan harga berkali lipat. Namun hilirisasi sebaiknya diperlakukan sebagai pintu masuk, bukan garis akhir.
Smelter adalah kemajuan jika sebelumnya kita hanya mengekspor bijih. Tetapi setelah smelter berdiri, pertanyaan berikutnya harus segera diajukan: setelah ini apa?
