Ia mencontohkan, ketika pembangkit mengalami penghentian operasi, proses menghidupkan kembali mesin hingga mencapai kapasitas operasi penuh dapat memerlukan waktu berjam-jam, bergantung pada kondisi dan jenis pembangkit.
Sementara itu, sistem baterai dapat memberikan respons daya dalam hitungan milidetik, sehingga berpotensi membantu menutup kekurangan pasokan dalam fase awal terjadinya gangguan.
“Baterai ini sangat berguna untuk meningkatkan keandalan sistem kelistrikan Batam-Bintan,” kata Kwin Fo.
Pengembangan pembangkit dan BESS tersebut menjadi bagian dari upaya PLN Batam mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan energi, sekaligus memperkuat ketahanan sistem kelistrikan di kawasan Batam dan Bintan.
Dalam kesempatan yang sama, Kwin Fo menegaskan bahwa pemulihan pasokan listrik di Batam, Bintan, dan Tanjungpinang menjadi prioritas agar gangguan kelistrikan tidak berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih luas.
Gangguan listrik tidak hanya memengaruhi aktivitas rumah tangga dan industri, tetapi juga dapat berdampak pada layanan publik, pasokan air bersih, serta akses internet.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kesiapan fasilitas umum dan pelaku usaha dalam menghadapi kemungkinan gangguan pasokan listrik yang berlangsung cukup lama.
Hotel dan fasilitas pelayanan publik, misalnya, perlu memastikan ketersediaan serta kesiapan genset cadangan agar kegiatan operasional dan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan ketika pasokan listrik utama terhenti.
Hal serupa juga berlaku bagi penyedia air bersih. Sejumlah rumah pompa membutuhkan pasokan listrik untuk mendistribusikan air kepada pelanggan. Oleh sebab itu, penyedia layanan air bersih perlu menyiapkan sumber daya listrik cadangan untuk menjaga kelangsungan distribusi ketika terjadi pemadaman.











