Sektor kuliner juga memberikan dampak besar terhadap ketenagakerjaan nasional dengan total penyerapan tenaga kerja mencapai 19,48 juta orang, atau sekitar 13,47 persen dari total tenaga kerja nasional.
Tak hanya itu, sekitar 93,51 persen pelaku usaha makanan dan minuman di Indonesia saat ini masih menyediakan menu makanan lokal, menunjukkan besarnya potensi sektor ini sebagai kekuatan ekonomi domestik yang dapat terus dikembangkan melalui digitalisasi.
Rony menegaskan bahwa program QRIS Jelajah Indonesia memiliki nilai strategis yang lebih luas dibanding sekadar peningkatan transaksi pembayaran digital. Program ini juga diarahkan untuk memperkuat daya tarik wisata daerah, meningkatkan eksposur kuliner lokal, serta menggerakkan ekonomi kreatif berbasis potensi daerah.
“Di daerah seperti Kepulauan Riau, digitalisasi menjadi elemen penting dalam memperkuat daya saing ekonomi lokal. Ketika sektor pariwisata, kuliner, UMKM, dan sistem pembayaran digital saling terhubung dalam satu ekosistem, maka kita akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan memberi dampak langsung bagi masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, Bank Indonesia akan terus memperluas implementasi QRIS di berbagai sektor usaha di Kepulauan Riau, termasuk sektor pariwisata, transportasi, pusat perdagangan, UMKM lokal, hingga destinasi wisata unggulan yang menjadi penggerak ekonomi daerah.
Ke depan, BI berharap QRIS tidak lagi dipandang sekadar sebagai alat pembayaran digital, melainkan menjadi bagian dari transformasi ekonomi nasional yang mampu mempercepat inklusi keuangan sekaligus memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia menghadapi tantangan global.
Program QRIS Jelajah Indonesia 2026 sendiri diproyeksikan menjadi salah satu agenda penting dalam mendorong peningkatan jumlah merchant digital nasional, mempercepat integrasi ekonomi digital, serta memperkuat kontribusi daerah terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semakin berbasis inovasi dan teknologi. (Iman Suryanto)
