Selamat Berpisah PWI, Ady Indra Pawennari: Saya Melangkah dengan Kepala Tegak

OPINI Oleh : Ady Indra Pawennari
Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri

KABAREKONOMI.CO.ID, Siang itu, Kamis, 27 Agustus 2026, jarum jam baru saja melewati pukul 14.50 WIB. Sebuah notifikasi WhatsApp dari seorang wartawan media siber masuk ke ponsel saya. Pesannya singkat, namun seketika meruntuhkan keheningan. Dia ingin mengonfirmasi dan minta komentar saya terkait PWI Pusat telah menerima pengunduran diri saya dan diminta segera menyerahkan kartu keanggotaan.

Bacaan Lainnya

Saya termenung. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyergap dada. Saya tidak langsung merespons pesan itu karena lembaran hitam di atas putih yang dimaksud memang belum sampai ke tangan saya. Demi mencari kepastian, saya menghubungi Ketua PWI Kepri, Saibansah Dardani.

Di sinilah ironi itu dimulai. Surat berharga itu—Pemberitahuan Penerimaan Pengunduran Diri dari PWI Pusat Nomor: 886/PWI-P/LXXX/VIII/2026 tertanggal 26 Agustus 2026, yang ditandatangani langsung oleh Ketua Umum Akhmad Munir dan Sekretaris Jenderal Marthen Selamet Susanto—ternyata sudah tiba.

Namun, surat yang sejatinya hak saya itu tertahan di tangan Ketua PWI Kepri. Bahkan, wartawan lebih duluan mendapatkannya ketimbang saya. Mengapa bahkan di detik-detik terakhir perpisahan, kejujuran begitu mahal harganya?

Alhamdulillah, takdir telah menggenapi jalannya. Surat pengunduran diri yang saya tandatangani sejak 5 Agustus 2026 itu, kini resmi disetujui. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya dinamika organisasi yang biasa. Namun bagi saya, ini adalah tentang prinsip, harga diri, dan batas akhir toleransi terhadap sebuah kepemimpinan.

Ketika seorang pemimpin tertinggi organisasi mengeluarkan pernyataan yang melabrak aturan main, yang terang-terangan bertentangan dengan AD/ART, bagi saya kata-katanya adalah keputusan yang mengikat.

Jika aturan dasar yang menjadi kompas organisasi saja bisa diabaikan tanpa rasa bersalah, maka bertahan di dalamnya adalah bentuk kompromi terhadap kehancuran moral. Mundur secara terhormat melalui mekanisme organisasi adalah satu-satunya jalan lurus yang tersisa untuk saya.

PWI telah memberi saya banyak pelajaran hidup, termasuk pelajaran paling pahit, bahwa ketulusan bisa dengan mudah ditumbangkan oleh ego, dan kebaikan yang kita tanam bisa dipangkas oleh belati pengkhianatan.

Ingatan saya seketika melayang, mundur jauh ke belakang pada dinginnya bulan Desember 2023. Saya masih ingat betul, bagaimana seorang pendusta datang mengetuk pintu rumah saya. Dengan tutur kata yang santun dan gurat wajah penuh harap, ia menyampaikan niatnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *