Seutas Tasbih di Langit Batam, Sebuah Pelajaran tentang Kerendahan Hati Iman Sutiawan

Ia adalah pimpinan lembaga legislatif tertinggi di tingkat provinsi. Ia juga Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Kepulauan Riau, partai pemenang Pemilu 2024 di daerah ini. Sebelumnya, ia pernah menjadi salah satu kandidat Wakil Gubernur Kepulauan Riau pada Pilkada 2019.

Namun, pagi itu, semua atribut kebesaran tersebut seolah ditanggalkan begitu saja.
Tak ada jarak antara dirinya dan penumpang lainnya. Tak ada kesan ingin diperlakukan istimewa. Ia hadir sebagai manusia biasa, dengan sebuah ransel di punggung dan kesederhanaan yang melekat dalam sikapnya.

Bacaan Lainnya

Padahal, dalam tradisi birokrasi dan protokoler, seorang pejabat setingkat Ketua DPRD Provinsi lazimnya didampingi ajudan atau pengawal, baik dari unsur kedinasan maupun pribadi.

Tetapi Iman memilih cara yang berbeda. Ia tidak sedang mempertontonkan kekuasaan. Ia juga tidak sedang membangun citra kesederhanaan.

Setidaknya, itulah yang saya tangkap dari peristiwa pagi itu. Ia menjalani perjalanan sebagaimana orang kebanyakan, tanpa perlu menghadirkan kemegahan jabatan di sekelilingnya.

Sebelum pesawat lepas landas, kami sempat berbincang ringan. Topiknya tentang persiapan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III Pro Jurnalismedia Siber (PJS) yang akan berlangsung pada 4–5 November 2026 di Asrama Haji Batam.

Rakernas tersebut direncanakan dihadiri sekitar 250 peserta dari 26 provinsi di Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, dijadwalkan membuka kegiatan tersebut bersama Ketua Umum DPP PJS, Mahmud Marhaba.

Percakapan berlangsung sederhana. Tidak ada pembicaraan panjang tentang kekuasaan, jabatan, ataupun kepentingan politik. Hanya seputar agenda organisasi dan harapan agar perhelatan nasional insan pers itu berjalan lancar.

Tak lama kemudian, awak kabin memberikan tanda bahwa pesawat bersiap untuk terbang.
Saya kembali bersandar di kursi 1D. Pesawat mulai bergerak meninggalkan landasan, kemudian perlahan mengudara membelah langit pagi.

Dari tempat duduk saya, sesekali mata ini melirik ke arah kursi 1A. Iman tampak memejamkan mata. Sekilas, ia seperti sedang tertidur. Saya pun tak ingin mengganggu ketenangannya.

Pos terkait