Seutas Tasbih di Langit Batam, Sebuah Pelajaran tentang Kerendahan Hati Iman Sutiawan

Namun, beberapa saat kemudian, perhatian saya tertuju pada sesuatu yang tak biasa. Jari-jari tangan kanannya terus bergerak. Perlahan, teratur, dan nyaris tanpa jeda. Sebuah tasbih berada dalam genggamannya. Butir demi butirnya bergeser mengikuti gerakan jari yang begitu tenang.

Saya kembali memperhatikannya. Matanya tetap terpejam. Tubuhnya bersandar. Tetapi jari-jarinya tak berhenti berzikir.

Bacaan Lainnya

Ada pemandangan yang sulit saya lupakan dari perjalanan itu. Di tengah deru mesin pesawat, ketika sebagian besar penumpang mungkin memilih tidur atau menikmati hiburan, seorang pemimpin daerah justru larut dalam kesunyian bersama tasbihnya.

Saya tak tahu berapa banyak kalimat zikir yang telah dilafalkannya. Saya juga tak tahu doa apa yang sedang dipanjatkannya. Tetapi melihat gerakan tasbih yang tak putus itu, saya seperti sedang menyaksikan sebuah pesan yang tak membutuhkan suara.

Bahwa di balik kesibukan mengurus pemerintahan, di balik rapat-rapat politik dan tanggung jawab besar kepada masyarakat, ada ruang sunyi yang tetap dijaga untuk mengingat Tuhan sang Maha Pencipta.

Sekitar satu setengah jam kemudian, pesawat akhirnya mendarat di Batam. Selama perjalanan itu, tasbih di tangan Iman terus bergerak. Setidaknya, sejauh yang saya amati, butir-butir tasbih itu tak pernah benar-benar berhenti berputar.

Ketika pintu pesawat dibuka dan penumpang dipersilakan turun, saya kembali mengikuti langkahnya dari belakang. Pemandangan yang sama kembali terlihat. Ia tetap sendiri.

Tak ada ajudan yang menunggu di pintu pesawat. Tak ada pengawal yang mengiringi langkahnya menuju terminal kedatangan. Ransel hitam itu masih setia melekat di punggungnya.

Bahkan setelah keluar dari bandara, tak tampak rombongan penjemput ataupun pengawalan khusus yang biasanya identik dengan kehadiran seorang pejabat tinggi daerah.

Saya kembali merenung. Ternyata, kebesaran seseorang tidak selalu harus diperlihatkan melalui banyaknya orang yang mengiringi langkahnya. Tidak pula harus diukur dari panjangnya iring-iringan kendaraan, kemewahan fasilitas, atau seberapa besar penghormatan yang diterimanya.

Ada orang-orang yang justru terlihat besar karena tidak sibuk membesarkan dirinya sendiri.
Ada pemimpin yang tetap merasa cukup berjalan sederhana, meskipun jabatan memberinya kesempatan untuk mendapatkan perlakuan istimewa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *