“Mangrove ini sangat penting karena berfungsi sebagai penyaring alami, menjaga kualitas air, dan menyediakan nutrisi bagi biota. Dengan sistem ini, kebutuhan pakan tambahan dan obat-obatan bisa ditekan, sehingga budidaya menjadi lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan,” jelasnya.
Selain ramah lingkungan, sistem ini juga dinilai mampu memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat pesisir. Dengan kualitas air yang lebih stabil dan ekosistem yang sehat, produktivitas budidaya perikanan dapat meningkat tanpa merusak lingkungan.
Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri, Ady Indra Pawennari, menyambut baik gagasan tersebut. Ia menilai silvofishery merupakan solusi ideal untuk kawasan mangrove seperti di Sungai Tiram yang memiliki potensi ekologis dan ekonomi sekaligus.
“Konsep budidaya seperti ini sudah banyak dikembangkan di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Selain memiliki nilai ekonomi tinggi, sistem silvofishery juga membantu menjaga kelestarian mangrove,” kata Ady.
Ia berharap Sungai Tiram dapat menjadi percontohan pengelolaan mangrove berbasis ekonomi hijau di Kepulauan Riau, sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari upaya pelestarian lingkungan.
Sejalan dengan upaya tersebut, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Kepulauan Riau juga mulai mengembangkan pendekatan baru dalam pelestarian mangrove melalui program Planting Tourism atau wisata menanam mangrove.
Program ini menggeser paradigma konservasi dari sekadar kegiatan penanaman menjadi bagian dari aktivitas pariwisata berbasis ekologi yang bernilai ekonomi.
Kepala BPDAS Kepri, Haris Sofyan Hendriyanto, mengatakan program ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Kementerian Kehutanan, Dinas Pariwisata, serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kepri.
