“Harapan kita, mangrove ini dijaga dan dirawat dengan baik. Jika fungsi ekologinya berjalan optimal, maka secara otomatis akan meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitarnya,” kata Haris.
Kombinasi antara konsep silvofishery dan program wisata menanam mangrove membuka peluang baru bagi pengelolaan mangrove di Kepulauan Riau. Kawasan seperti Sungai Tiram berpotensi menjadi model pengelolaan ekosistem pesisir yang tidak hanya berfokus pada pelestarian, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat.
Kolaborasi antara komunitas, pemerintah, dan pihak internasional seperti yang ditawarkan Naoto Akune menunjukkan bahwa masa depan mangrove tidak hanya sebagai kawasan konservasi, tetapi juga sebagai pusat ekonomi hijau yang berkelanjutan. Dengan pengelolaan yang tepat, mangrove dapat menjadi fondasi penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di Kepulauan Riau.(Iman)










