“Jika bukan kita, sesama kuli tinta, lalu siapa lagi yang akan saling mendekap dan peduli pada nasib saudara kita?” ujarnya.
Kunjungan itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda sosial.
Di tengah kesibukan wartawan mengejar berita, tenggat waktu, dan berbagai kepentingan profesi, masih ada ruang untuk berhenti sejenak dan menengok mereka yang pernah berjalan bersama.
Aji mungkin tidak lagi berdiri di tengah hiruk-pikuk ruang redaksi seperti dahulu. Namun, kunjungan rekan-rekan sejawat menunjukkan bahwa jejak seorang wartawan tidak berhenti ketika ia meninggalkan pekerjaannya.
Ada persaudaraan yang tetap tinggal. Dan pada Minggu itu, persaudaraan tersebut datang mengetuk pintu rumahnya. (***)
