KABAREKONOMI.CO.ID, BATAM — Industri pariwisata Kepulauan Riau kembali menjadi sorotan setelah mencuatnya praktik sejumlah pramuwisata perorangan yang diduga mengambil tamu secara mandiri hingga mencatut nama travel agent resmi. Praktik yang tampak sederhana ini ternyata menyimpan dampak ekonomi yang jauh lebih besar bagi struktur bisnis pariwisata Kepri.
Pengamat Pariwisata Kepri sekaligus mantan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri, Buralimar, memandang fenomena ini sebagai persoalan lama yang kembali mencuat ke permukaan.
Ia menegaskan praktik perorangan yang mengambil tamu secara langsung telah berlangsung bertahun-tahun dan lahir dari hubungan kepercayaan personal yang terbangun antara pramuwisata dan wisatawan.
“Praktik seperti ini sudah lama terjadi. Beberapa pramuwisata sejak dulu memang mendapatkan trust langsung dari wisman dan wisnus,” jelasnya saat dihubungi awak media pada Minggu (4/1/2026) pagi.
Menurut Buralimar, praktik tersebut memang dilakukan secara individual, namun konsekuensinya bersifat sistemik dan menggerogoti tata kelola industri pariwisata daerah. Ketika pramuwisata mengambil tamu sendiri tanpa melalui travel agent, rantai nilai ekonomi pariwisata terputus.
Padahal, ekosistem pariwisata melibatkan banyak aktor dan aliran pendapatan—mulai dari biro perjalanan, pemandu wisata, transportasi, hingga UMKM lokal. “Secara etika pramuwisata ini kurang pas, apalagi kalau sampai mencatut nama travel agent orang lain. Itu jelas menyalahi etika,” tegasnya.
Buralimar menilai travel agent tidak boleh hanya mengeluh, tetapi harus lebih aktif memperjuangkan kepentingannya karena mereka memiliki pramuwisata yang terdaftar dalam asosiasi resmi. Asosiasi, menurutnya, bukan sekadar formalitas tetapi wadah untuk membangun kekuatan kolektif.
“Beberapa travel agent punya pramuwisata yang terdaftar di asosiasi. Mereka harus lebih giat dan lebih fight,” katanya.










