“Petani Kepri harus sejahtera. Jangan sampai petani susah menyekolahkan anaknya, jangan sampai kesulitan ketika membutuhkan layanan kesehatan. Ke depan kita ingin petani cukup membawa KTP dan harus mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak,” katanya.
Nyanyang juga menyoroti tantangan geografis Kepulauan Riau yang membuat sektor pertanian memiliki karakter berbeda dibanding daerah lain di Indonesia.
Ia menjelaskan wilayah Kepri didominasi lautan, sementara lahan daratan sangat terbatas.
“Provinsi Kepulauan Riau ini bukan penghasil padi besar, bukan penghasil jagung besar. Daratan kita hanya sekitar 2 persen, selebihnya wilayah laut. Tapi kita harus bertahan bagaimana sektor pertanian ini tetap berjalan dan menjaga inflasi daerah,” jelasnya.
Ia menyebut kondisi tanah di beberapa wilayah seperti Natuna, Anambas hingga Lingga memiliki karakteristik berbeda karena kandungan mineral seperti bauksit, timah, besi, hingga unsur lainnya sehingga membutuhkan rekayasa pertanian yang tepat.
Dalam paparannya, Nyanyang juga membuka fakta bahwa kebutuhan pangan di Kepulauan Riau masih sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Untuk komoditas protein hewani saja, kebutuhan masyarakat tergolong sangat besar.
“Kebutuhan ayam di Kepri sehari bisa mencapai 300 ton. Untuk telur, kebutuhan kita sekitar 3 juta butir per hari. Sayur-sayuran juga sebagian besar masih didatangkan dari luar daerah, mulai dari Medan, Padang, Lampung, Makassar bahkan Lombok,” ungkapnya.
Karena itu, ia menegaskan HKTI Kepri di bawah kepemimpinannya akan fokus membangun sistem pertanian yang lebih terintegrasi melalui penguatan kelompok tani, urban farming, dan pengembangan ketahanan pangan berbasis karakteristik wilayah.
“Kita harus mengintegrasikan semua potensi pertanian yang ada. Sudah ada kelompok tani, sudah ada urban farming, tapi belum terhubung secara maksimal. Ini yang akan kita bangun untuk ketahanan pangan Provinsi Kepulauan Riau ke depan,” tutup Nyanyang. (Iman Suryanto)
