Baginya, Batam adalah miniatur Indonesia. Melayu, Jawa, Batak, Minang, Tionghoa, Bugis, hingga masyarakat dari berbagai daerah di Nusantara hidup berdampingan dan saling melengkapi. Keragaman itu bukan sekadar identitas sosial, melainkan modal penting dalam membangun daerah.
Di atas panggung utama, pertunjukan seni dan penampilan sejumlah artis menghidupkan malam. Namun, sesungguhnya yang paling berharga bukanlah gemerlap lampu atau meriahnya hiburan, melainkan suasana ketika ribuan orang dari latar belakang berbeda duduk bersama, menikmati pertunjukan, dan merayakan perbedaan dalam satu tarikan napas kebersamaan.
Nyanyang menilai, harmoni sosial yang tercipta melalui kegiatan budaya memiliki dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi dan pariwisata. Festival-festival budaya tidak hanya memperkuat identitas daerah, tetapi juga menggerakkan sektor usaha masyarakat, mulai dari pelaku UMKM, kuliner, transportasi, hingga industri kreatif.
“Keberagaman adalah aset. Ketika budaya dirawat dan dipromosikan, maka ekonomi akan bergerak dan pariwisata akan tumbuh. Batam memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata budaya yang menarik, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara,” katanya.
Sebagai kota perbatasan yang berhadapan langsung dengan Singapura dan Malaysia, Batam memang memiliki posisi strategis. Namun, lebih dari sekadar lokasi geografis, kekuatan utama kota ini justru terletak pada kemampuannya merawat toleransi dan menjadikan keberagaman sebagai energi pembangunan.
Mooncake Festival 2026 pun meninggalkan pesan penting: di tengah perbedaan, masyarakat Batam membuktikan bahwa persatuan dapat tumbuh melalui budaya. Lampion yang menerangi malam di Bumi Indah bukan hanya simbol perayaan, tetapi juga lambang harapan bahwa harmoni akan terus menjadi cahaya bagi masa depan Kepulauan Riau. (Iman)











