Rafki menjelaskan bahwa penerapan WFH secara selektif justru bisa meningkatkan kepuasan pekerja tanpa mengganggu kinerja perusahaan.
“Karyawan tentu senang jika satu hari bisa bekerja dari rumah. Selama tidak mengganggu aktivitas perusahaan, kami menghimbau pengusaha untuk melaksanakan imbauan pemerintah tersebut,” katanya.
Ia menambahkan, pelaksanaan WFH secara terbatas dapat menjadi bentuk adaptasi dunia usaha terhadap perubahan pola kerja modern sekaligus strategi mitigasi risiko di tengah ketidakpastian global.
APINDO Batam melihat kebijakan ini sebagai bagian dari langkah antisipatif terhadap potensi krisis ekonomi yang dipicu konflik global berkepanjangan. Dampak perang yang terus berlangsung di berbagai kawasan dunia dinilai berpotensi memicu kenaikan ongkos transportasi, gangguan rantai pasok, hingga kelangkaan energi.
Dalam konteks tersebut, partisipasi dunia usaha menjalankan imbauan pemerintah dipandang sebagai bentuk kontribusi sektor swasta dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.
“Ini bentuk partisipasi pengusaha untuk mengantisipasi kemungkinan krisis akibat perang yang membuat ongkos transportasi mahal dan pasokan energi langka,” jelas Rafki.
Meski mendukung kebijakan tersebut, APINDO mengakui penerapan WFH di Batam tidak akan berdampak besar secara kuantitas.
Sebagaimana diketahui, struktur ekonomi kota Batam didominasi oleh sektor Manufaktur dan industri pabrik; Perdagangan; Perhotelan dan pariwisata; Kuliner; dan Konstruksi.










