ALMI : 60 Persen Potensi Laut Belum Tergarap, Kepri Didorong Percepat Ekonomi Biru
KABAREKONOMI.CO.ID, Tanjungpinang – Ketua Aliansi Maritim Indonesia (ALMI) Kota Batam, Osman Hasyim, menegaskan bahwa percepatan pengembangan ekonomi biru harus menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau (Kepri) dalam menghadapi tantangan global sekaligus menyongsong visi Kepri Emas 2045.
Pernyataan tersebut disampaikan Osman saat menjadi pemateri dalam Diskusi Publik bertema Ekosistem Maritim Pondasi Utama menuju Kepri Emas 2045 yang digelar di Kampus Universitas Maritim Raja Ali Haji di Tanjungpinang, Selasa (5/5/2026).
Dalam paparannya, Osman menilai Kepri memiliki posisi geografis yang sangat strategis di jalur perdagangan dunia. Dengan karakter wilayah yang didominasi laut, ia menegaskan bahwa masa depan ekonomi Kepri tidak bisa dilepaskan dari sektor kelautan dan perikanan.
Menurutnya, ekonomi biru bukan sekadar konsep, melainkan strategi pembangunan yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan. Pendekatan ini dinilai mampu mendorong investasi, membuka lapangan kerja, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
“Kepri memiliki semua prasyarat untuk menjadi pusat ekonomi maritim nasional bahkan global. Potensi laut kita sangat besar, tinggal bagaimana dikelola secara modern, terintegrasi, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Dalam diskusi tersebut, Osman memaparkan potensi besar sektor perikanan Kepri, khususnya di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 711. Data yang disampaikan menunjukkan bahwa potensi sumber daya ikan mencapai sekitar 1,1 juta ton per tahun.
Namun, realisasi pemanfaatannya saat ini baru sekitar 40% atau setara 440 ribu ton, dengan nilai ekonomi sekitar Rp13,2 triliun per tahun. Artinya, masih terdapat 60% potensi yang belum tergarap, yang setara peluang ekonomi mencapai Rp19,8 triliun per tahun.









