KABAREKONOMI.CO.ID, JAKARTA — Nilai ekspor nonmigas Indonesia ke China tercatat tumbuh sepanjang Januari–Agustus 2026. Kenaikan tersebut seiring dengan meningkatnya pengiriman sejumlah komoditas utama.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke China mencapai US$47,44 miliar sepanjang Januari–Agustus 2026.
Angka tersebut meningkat 17,42% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kenaikan terutama ditopang oleh ekspor nikel dan barang daripadanya, lemak dan minyak hewani atau nabati, serta bahan bakar mineral,” jelas Ateng dalam Konferensi Pers BPS, Kamis (1/10/2026).
Sementara itu, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Amerika Serikat mencapai US$22,41 miliar. Nilai tersebut meningkat dibandingkan periode Januari–Agustus 2025 yang tercatat sebesar US$20,59 miliar.
Komoditas utama ekspor nonmigas Indonesia ke Amerika Serikat adalah mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya dengan porsi 15,42%. Namun, nilai ekspor komoditas tersebut secara kumulatif turun 8,63%.
Adapun nilai ekspor nonmigas Indonesia ke India meningkat dari US$12,56 miliar menjadi US$12,77 miliar pada Januari–Agustus 2026.
Ateng mengatakan, ekspor Indonesia ke India terutama berasal dari komoditas bahan bakar mineral yang memiliki porsi sebesar 32,07%.
Ekspor Nonmigas Indonesia Tumbuh 5,48 Persen
Secara keseluruhan, nilai ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari–Agustus 2026 mencapai US$185,63 miliar. Angka tersebut tumbuh 5,48% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025.
Ateng memaparkan, kinerja ekspor nonmigas tersebut turut ditopang oleh penguatan sektor industri pengolahan yang mencatat pertumbuhan sebesar 7,87% secara kumulatif.
Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama kenaikan ekspor nonmigas Indonesia dengan memberikan andil sebesar 6,30% terhadap pertumbuhan total ekspor.
Menurut Ateng, peningkatan ekspor dari sektor industri pengolahan terutama berasal dari produk olahan nikel, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, aluminium, kimia dasar anorganik lainnya, serta tembaga.
SUMBER: BISNIS INDONESIA











