Namun, pertumbuhan investasi data center juga membawa konsekuensi terhadap kebutuhan utilitas, terutama air dan listrik. Karena itu, BP Batam mendorong konsep one investment, yakni investor tidak hanya menanamkan modal untuk pembangunan fasilitas data center, tetapi juga ikut berinvestasi dalam penyediaan air dan kelistrikan.
Konsep tersebut dinilai penting agar pertumbuhan industri data center dapat berjalan beriringan dengan ketersediaan infrastruktur dasar dan kebutuhan masyarakat.
Untuk memenuhi kebutuhan air industri data center, Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) dinilai menjadi salah satu opsi yang potensial diterapkan di Batam.
“Investasi pembangunan fasilitas SWRO diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp400 miliar hingga Rp500 miliar, dengan kapasitas produksi air yang diestimasikan mencapai sekitar 300 liter per detik,” jelasnya.
Pembangunan fasilitas SWRO diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 1 hingga 3 tahun, tergantung kapasitas air yang dibutuhkan oleh masing-masing perusahaan.












