Dibina Pertamina Patra Niaga, KWT di Batam Ubah Limbah Sabut Kelapa Jadi Peluang Ekonomi

Atas dukungan tersebut, KWT dan pengelola Unit Bank Sampah menyampaikan apresiasi kepada Pertamina Patra Niaga yang selama ini memberikan bimbingan, dukungan, serta pembinaan dalam mengembangkan kegiatan pengolahan limbah menjadi produk bernilai ekonomi.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pertamina Patra Niaga yang sudah memberikan bimbingan, dukungan dan binaan kepada kami. Dengan adanya pendampingan ini, kami jadi lebih tahu bagaimana mengolah limbah menjadi sesuatu yang bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai jual,” ungkap perwakilan kelompok wanita tani.

Bacaan Lainnya

Dukungan tersebut dinilai menjadi penyemangat bagi para anggota KWT untuk terus mengembangkan kegiatan, tidak hanya dalam pengolahan cocopeat, tetapi juga pemanfaatan berbagai potensi lingkungan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Cocopeat yang dihasilkan kelompok wanita tani binaan Pertamina Patra Niaga ini memiliki fungsi penting sebagai media tanam, menggantikan atau melengkapi sekam padi yang harganya relatif lebih mahal.

Di tengah tren urban farming dan pertanian rumah tangga yang terus meningkat, kebutuhan media tanam berbasis serat organik seperti cocopeat juga ikut naik.

“Dia sebagai media tanam, seperti sekam,” jelas Nela.

Di wilayah kepulauan, sabut kelapa sebelumnya hanya menjadi limbah yang kerap mengganggu lingkungan perairan. Kini, melalui proses pengolahan sederhana, limbah tersebut justru menjadi sumber pendapatan baru sekaligus solusi lingkungan.

Dalam satu kali produksi, jumlah sabut kelapa yang diolah sangat bergantung pada pasokannya. Meski tidak selalu ditimbang secara rinci, satu kendaraan roda tiga (Viar) yang membawa sabut kelapa diperkirakan menghasilkan sekitar 5 kilogram cocopeat setelah diproses.

Meski skala produksinya masih kecil, model usaha ini mencerminkan konsep ekonomi sirkular yang mulai tumbuh di tingkat komunitas: limbah diubah menjadi produk bernilai jual, dengan dampak ganda pada ekonomi rumah tangga dan lingkungan.

Untuk saat ini, pemasaran cocopeat masih dilakukan secara terbatas, terutama melalui bazar-bazar kecamatan, kegiatan MTQ, serta digunakan untuk kebutuhan kebun sendiri sebagai media tanam.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *