Seiring pengembangan tersebut, kapasitas infrastruktur Terminal Petikemas Batu Ampar juga terus ditingkatkan. Saat ini terminal memiliki panjang dermaga sekitar 1.000 meter dengan kedalaman alur antara 8 hingga 12 meter LWS serta area penumpukan petikemas seluas sekitar 12 hektare.
Dari sisi peralatan, terminal kini didukung lima unit ship-to-shore crane (STS) atau quay crane dan 12 unit rubber tyred gantry (RTG). Sebagian besar peralatan tersebut merupakan hasil investasi lanjutan setelah kerja sama pengembangan antara BTP dan BACT.
Basori mengungkapkan, modernisasi infrastruktur mulai menunjukkan hasil positif. Sepanjang 2025, volume bongkar muat petikemas di Terminal Batu Ampar mencapai sekitar 522.000 TEUs, menjadi indikator meningkatnya aktivitas logistik di Batam.
Ke depan, BTP menargetkan Terminal Petikemas Batu Ampar mampu menjadi pusat logistik yang terintegrasi dan mendukung pertumbuhan investasi, perdagangan, serta industri di Batam dan kawasan barat Indonesia.
“Kami ingin menjadikan Terminal Petikemas Batu Ampar sebagai terminal modern yang mampu bersaing secara global sekaligus memberikan pelayanan terbaik bagi pengguna jasa dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” tutup Basori.(Iman Suryanto)
