Kebebasan Pers, Etika Wartawan, dan Luka Kepercayaan dalam Catatan Ady Indra Pawennari

Kini, tiga tahun telah berlalu. Biografi yang dijanjikan tak pernah terbit. Tak ada buku, tak ada naskah yang diserahkan, bahkan tak ada penjelasan yang memadai untuk menutup penantian panjang tersebut.

Yang tersisa hanyalah ingatan tentang sebuah janji dan pertanyaan yang terus mengendap di kepala.

Bacaan Lainnya

Kau yang memulai, kau pula yang berjanji. Mengapa akhirnya saya yang harus menanggung kecewa?

Saya kira kekecewaan itu sudah cukup menjadi pelajaran. Ternyata, persoalannya tidak berhenti pada biografi yang tak kunjung selesai.

Hubungan kami justru berubah menjadi sesuatu yang tak pernah saya bayangkan: permusuhan.
Suatu hari, saya menerima tangkapan layar percakapan dari sebuah grup WhatsApp bernama PWI Berintegritas. Di dalamnya, terdapat pesan yang mendorong wartawan memberitakan saya seolah-olah sedang ditangkap dan ditahan polisi.

Saya terkejut. Sebab, pada saat itu, saya tidak sedang ditahan polisi. Namun, narasi tersebut telanjur bergulir.

Berdasarkan penelusuran saya melalui Google, sedikitnya 25 media memuat pemberitaan bernada negatif tentang saya. Menurut penilaian saya, sejumlah pemberitaan itu tidak memberi ruang yang layak bagi konfirmasi dan verifikasi, bahkan cenderung menghakimi.

Bagi saya, ini bukan lagi sekadar persoalan pribadi. Ada prinsip jurnalistik yang dipertaruhkan.

Wartawan boleh berbeda pandangan. Kritik terhadap siapa pun juga merupakan bagian dari kebebasan pers.

Namun, kebebasan itu tidak boleh dilepaskan dari tanggung jawab untuk memeriksa fakta, menguji informasi, dan memberikan kesempatan kepada pihak yang diberitakan untuk menyampaikan penjelasan.

Apalagi, ketika seseorang tidak sedang berada dalam tahanan, tidak ada alasan untuk mengabaikan upaya konfirmasi kepadanya.

Saya kemudian mengadukan persoalan pemberitaan tersebut kepada Dewan Pers. Dalam proses penyelesaiannya, sejumlah media menyampaikan permintaan maaf atas pemberitaan yang keliru mengenai diri saya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *