Menantang Lelah di Toapaya Bintan. Kisah Marlon Sitorus, Menjaga Pasokan Gas Melon di Tengah HET yang Tak Lagi Manusiawi

KABAREKONOMI.CO.ID, BINTAN – Di bawah rindangnya pohon mangga di kawasan Toapaya Selatan, Kabupaten Bintan, Marlon Sitorus berdiri di samping tumpukan tabung hijau tiga kilogram yang siap diantarkan ke rumah-rumah warga.

Mengenakan rompi hitam andalannya, raut wajah pria ini menyimpan cerita panjang tentang sebuah perjuangan ekonomi yang luput dari pandangan pemerintah daerah.

Bacaan Lainnya

Marlon adalah pemilik Pangkalan LPG 3 Kg resmi yang beroperasi di wilayah RT 02/RW 03, Kelurahan Toapaya Selatan, Kecamatan Toapaya, Kabupaten Bintan.

Berbeda dengan pangkalan di pusat Kota Tanjungpinang yang areanya serba dekat, Marlon harus berhadapan dengan karakteristik wilayah Bintan yang luas, berjarak, dan semi-perdesaan.

Setiap hari, ia memikul tanggung jawab besar memastikan dapur warga di Toapaya tetap mengepul. Namun, pengorbanan tenaga dan waktu yang ia curahkan kini terasa kian hambar.

Penyebabnya tunggal: Harga Eceran Tertinggi (HET) yang dipatok sebesar Rp18.000 per tabung dinilai sudah sangat menyiksa dan tidak lagi manusiawi bagi para penyalur kecil di tingkat bawah.

“Aturan harga Rp18.000 ini seolah memaksa kami hidup di masa lalu. Biaya hidup, harga sembako, hingga ongkos bensin untuk operasional di Bintan ini sudah melompat jauh dibandingkan sepuluh tahun lalu ketika aturan ini dibuat. Tapi bagi kami, waktu seperti berhenti. Kami harus bertahan dengan sisa keuntungan yang nyaris tidak kelihatan,” tutur Marlon saat menceritakan keluh kesahnya di antara deretan tabung gas.

Pos terkait