Ia menyinggung persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), antrean bahan bakar minyak (BBM) di Bali, hingga sorotan terhadap pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
“Antrian bensin di Bali, karhutla, dua negara tetangga ngomel-ngomel. Lalu tiba-tiba MSCI, kamu jelek, minta disamakan Zimbabwe. Pasti itu perlawanan. Targetnya saham rontok, rupiah melemah, sembako naik, lalu ganti pemerintah,” ujar Zulhas.
Ia menilai berbagai persoalan tersebut harus dihadapi dengan memperkuat ketahanan dan kemandirian ekonomi nasional.
“Kalau ada apa-apa, kita Indonesia yang rugi,” tegasnya.
Menurut Zulhas, kekayaan sumber daya alam yang melimpah harus menjadi kekuatan utama untuk memperkokoh posisi Indonesia dalam perdagangan internasional, bukan justru menjadi sumber keuntungan lebih besar bagi negara lain.
Karena itu, pemerintah ingin mengakhiri ketergantungan terhadap jalur perdagangan yang dinilai belum memberikan keuntungan optimal bagi Indonesia.
Penguatan ekspor langsung, menurutnya, menjadi bagian penting dari agenda besar mewujudkan kedaulatan ekonomi nasional. Indonesia tidak boleh hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi harus mampu menguasai rantai perdagangan dan meningkatkan nilai tambah komoditasnya di pasar global.(***)












