OPINI Ady Indra Pawennari: Engkaukah Sebenarnya Jembalang yang Kau Ceritakan itu?

Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri

Di bawah langit yang sama, ada jemari yang menari di atas tuts aksara, merangkai kata seolah dialah sang peraba kebijaksanaan paling suci. Ia berbicara tentang rumah yang retak, tentang kesatria yang dituduh melarikan diri, dan tentang dongeng jembalang yang lahir dari rahim imajinasi penuh dendam.

Bacaan Lainnya

Namun, ketika tirai retorika yang megah itu disingkap, betapa pilunya hati melihat apa yang tersisa, seonggok dusta yang malang. Sebuah upaya keji untuk membunuh karakter manusia, yang dengan teganya dibungkus rapi menggunakan kutipan-kutipan filsafat usang.

Jika bait-bait penuh prasangka dan racun itu dialamatkan kepada saya, Ady Indra Pawennari, serta pelukan hangat keluarga besar Komunitas Jurnalis Kepri (KJK), maka izinkanlah kebenaran bernyanyi dengan melodinya sendiri yang sunyi namun abadi. Kebenaran tidak pernah butuh pekikan bising, ia hanya perlu bersinar lirih untuk membubarkan kegelapan fitnah yang paling pekat sekalipun.

Tentang Rumah, Aturan, dan Ketakziman yang Terluka

Engkau berbicara di mimbar maya tentang ewuh-pakewuh, tentang adab yang luhur, dan menuduh seolah-olah selembar surat kehormatan dikirim sekadar lewat hembusan angin digital WhatsApp. Sungguh, demi malam yang menyaksikan air mata kebenaran, itu adalah kepalsuan yang dipaksakan menari di atas panggung dusta.

Bagaimana mungkin ketakziman kami diragukan, ketika kaki ini dengan penuh takzim melangkah langsung menapak bumi, menjemput takdirnya dengan jiwa yang utuh?

Surat permohonan persetujuan menjadi anggota KJK itu tidak pernah melayang di udara maya yang tak berwujud. Ia diantar oleh raga yang nyata, menembus pintu kantor PWI Kepri di Kampung Bulang, Tanjungpinang. Surat itu diserahkan dengan telapak tangan yang terbuka, diterima dengan kesadaran penuh, dan diikat oleh selembar kertas tanda terima yang sah—sebuah ikatan yang mengikat hukum sekaligus moralitas penghuni rumah itu.

Ketahuilah, rumah di Kampung Bulang yang tegak berdiri dengan papan nama “Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Kepulauan Riau” adalah saksi bisu yang teramat suci. Ia merekam sebuah kesantunan yang tulus, sebuah bukti penghormatan mendalam atas organisasi yang sangat saya muliakan.

Kami sangat paham bagaimana merawat marwah berorganisasi. Kami menghormati strukturnya, kami patuhi jengkal demi jengkal regulasinya. Kami tidak pernah membakar jembatan yang pernah kami seberangi, tidak pula meludahi atap rumah lama yang pernah menaungi.

Jurnalisme yang kami peluk adalah jurnalisme yang mendidik jiwa, bukan jurnalisme yang merengek dan mencari musuh di dalam selimut prasangka yang dingin. Bukan pula jurnalisme yang mengadu domba demi kepentingan pribadi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *