Tekanan juga terjadi pada gas. Harga LNG spot Asia melonjak hingga sekitar 26 dollar AS per juta British thermal units karena terganggunya pasokan Qatar. Impor LNG Asia pada September diperkirakan menjadi yang terendah sejak 2018 karena banyak negara tidak sanggup membeli pada harga tersebut.
Kenaikan harga energi menciptakan supply shock. Inflasi naik bukan karena masyarakat terlalu banyak berbelanja, tetapi karena biaya produksi dan distribusi meningkat. Bank sentral kemudian menghadapi dilema: menaikkan bunga dapat menahan permintaan, tetapi tidak dapat membuka kembali Selat Hormuz atau menambah produksi minyak.
Jika bunga dinaikkan terlalu agresif, inflasi mungkin dapat ditekan, tetapi pertumbuhan dan pekerjaan ikut melemah. Jika bunga dibiarkan, kenaikan biaya energi dapat menyebar menjadi inflasi yang lebih permanen. Dunia akhirnya menghadapi risiko stagflation-lite: pertumbuhan melemah, tetapi harga dan bunga tetap tinggi.
Komoditas Mengirim Pesan yang Tidak Sama
Pergerakan harga komoditas lainnya memperlihatkan bahwa ketidakpastian global tidak hanya terjadi di pasar uang dan energi. Harga emas pada 17 September 2026 berada sekitar 4.315 dollar AS per troy ounce dan sempat naik sekitar 1,2 persen dalam sehari. Perak juga bergerak sekitar 64 dollar AS per ounce. Keduanya tetap tinggi walaupun The Fed menaikkan suku bunga.
Secara teori, kenaikan suku bunga seharusnya mengurangi daya tarik emas karena emas tidak memberikan bunga atau kupon. Jika harga emas tetap naik ketika bunga Amerika naik, berarti kebutuhan untuk mencari perlindungan terhadap geopolitik, inflasi, risiko fiskal, dan ketidakpastian mata uang lebih kuat daripada kenaikan opportunity cost. Emas tidak sedang memberi sinyal bahwa dunia kehabisan uang. Emas memberi sinyal bahwa dunia mulai mempertanyakan tempat paling aman untuk menyimpannya.
Sementara itu, tembaga berada di kisaran lebih dari 14.000 dollar AS per ton, mendekati rekor. Kenaikannya didorong oleh pasokan tambang yang terbatas serta kebutuhan besar untuk jaringan listrik, kendaraan listrik, pusat data, dan investasi kecerdasan buatan. Jika emas mencerminkan ketakutan, tembaga mencerminkan transformasi teknologi. Bagi Indonesia, tingginya harga tembaga membuka peluang ekspor dan hilirisasi, tetapi peluang itu baru bermakna apabila menghasilkan nilai tambah, teknologi, pajak, devisa bersih, dan keterkaitan dengan industri domestik.











