OPINI Lukita Dinarsyah Tuwo: Ketika Uang Murah Pulang dan Komoditas Menjadi Mahal (1-2)

Lukita Dinarsyah Tuwo
Lukita Dinarsyah Tuwo

Bank Indonesia dan Pilihan yang Sama-sama Tidak Nyaman

Kombinasi kenaikan Fed Rate, yield Treasury sekitar 5 persen, kembalinya sebagian modal ke Jepang, penguatan dollar, dan minyak di atas 100 dollar AS menempatkan Bank Indonesia dalam posisi serba salah.

Bacaan Lainnya

BI Rate saat ini berada pada 5,75 persen. Rapat Dewan Gubernur berikutnya dijadwalkan pada 22–23 September 2026. Jika BI menaikkan suku bunga, selisih bunga dengan Amerika dapat dipertahankan, daya tarik aset rupiah diperkuat, dan tekanan terhadap rupiah serta imported inflation dapat diredam. Namun, biaya dana akan meningkat, kredit dapat tertahan, cicilan rumah dan modal kerja menjadi lebih mahal, serta ruang pertumbuhan semakin sempit.

Sebaliknya, jika BI mempertahankan suku bunga, dunia usaha dan rumah tangga memperoleh sedikit ruang bernapas. Namun, selisih bunga dengan Amerika semakin menyempit. Investor tidak hanya menghitung bunga nominal, tetapi juga risiko depresiasi rupiah. Treasury memberikan imbal hasil sekitar 5 persen dalam dollar, sedangkan SBN memberikan hasil lebih tinggi dalam rupiah yang selama 2026 mengalami tekanan cukup besar.

Dalam teori uncovered interest parity, selisih bunga antarnegara akan dinilai bersama dengan ekspektasi perubahan kurs. Bunga rupiah yang lebih tinggi tidak cukup menarik jika investor memperkirakan depresiasi rupiah akan menghabiskan seluruh keuntungan tersebut.

Indonesia juga menghadapi impossible trinity atau trilema kebijakan. Sebuah negara tidak dapat sekaligus mempertahankan nilai tukar yang stabil, membebaskan arus modal, dan sepenuhnya menjalankan kebijakan suku bunga yang independen. Salah satunya harus menyesuaikan.

Karena itu, persoalan BI bukan sekadar mengikuti atau tidak mengikuti The Fed. Persoalannya adalah memilih risiko mana yang lebih mungkin dikendalikan.

Menaikkan bunga berarti mengorbankan sebagian pertumbuhan demi stabilitas. Menahan bunga berarti memberikan ruang bagi pertumbuhan dengan menerima risiko lebih besar pada rupiah dan inflasi. Tidak ada pilihan tanpa biaya. Kebijakan ekonomi memang kadang seperti memilih payung ketika angin kencang: payung besar lebih melindungi, tetapi semakin sulit dipegang.

Apa pun keputusannya, independensi Bank Indonesia harus dihormati. Independensi bukan berarti bekerja tanpa koordinasi, kritik, pengawasan, atau pertanggungjawaban. Independensi berarti keputusan moneter tidak boleh ditundukkan kepada kepentingan fiskal jangka pendek atau tekanan politik, tetapi didasarkan pada data, kredibilitas, dan mandat menjaga stabilitas rupiah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *