OPINI Lukita Dinarsyah Tuwo: Laut, Gunung, dan Takdir yang Harus Diubah (3-5)

Batam dan Bintan berada di halaman depan salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia. Namun sebagian besar nilai tambah masih singgah di halaman tetangga.
Kapal-kapal lewat. Kontainer berpindah. Bahan bakar terjual. Kapal diperbaiki. Asuransi diterbitkan. Pembiayaan dilakukan. Data diproses. Indonesia mendapat pemandangannya. Dari posisi strategis menuju strategi

Geografi Indonesia perlu diterjemahkan ke dalam beberapa agenda.
Pertama, tiga ALKI harus dikembangkan sebagai koridor ekonomi, bukan hanya alur lintas dan ruang pertahanan. Pada titik-titik terpilih perlu dibangun simpul industri, energi, logistik, perikanan, pariwisata, dan ekonomi digital berdasarkan potensi masing-masing wilayah.
Tidak semua daerah harus memiliki pelabuhan internasional. Pelabuhan tanpa kargo hanya menghasilkan monumen beton yang menghadap laut.

Bacaan Lainnya

Kedua, Batam dan Bintan perlu dirancang sebagai satu gerbang ekonomi regional yang saling melengkapi. Pelabuhan, bandara, kawasan industri, galangan kapal, pusat data, kabel bawah laut, logistik, pariwisata, dan kawasan perdagangan bebas tidak boleh berkembang sebagai pulau-pulau kebijakan yang saling berkompetisi.

Ketiga, pembangunan maritim harus bergerak dari ekonomi komoditas menuju ekonomi jasa dan teknologi. Nilai harus diperoleh dari perkapalan, galangan, perawatan kapal, bunkering rendah karbon, cold chain, pengolahan ikan, pengawasan laut, pemetaan bawah laut, pembiayaan, dan arbitrase maritim.

Keempat, ketangguhan bencana harus menjadi bagian dari strategi produktivitas. Peta risiko harus menentukan lokasi industri, pelabuhan, permukiman, jaringan listrik, pusat data, dan infrastruktur transportasi. Bangunan tahan gempa, sistem peringatan dini, teknologi pemantauan, asuransi bencana, dana kontingensi, serta business continuity plan harus diperlakukan sebagai investasi ekonomi.
Ketangguhan bukan biaya tambahan. Ketangguhan adalah perlindungan terhadap modal, pekerjaan, rantai pasok, dan pertumbuhan.

Kelima, posisi Indonesia di Indo-Pasifik harus diterjemahkan menjadi strategi industri, perdagangan, teknologi, konektivitas, dan keamanan. Posisi strategis tidak cukup dinyatakan dalam pidato diplomatik. Ia harus terlihat pada struktur ekspor, kemampuan industri, kekuatan armada, penguasaan teknologi, serta perusahaan nasional yang bermain di tingkat regional.

Geografi dan jebakan pendapatan menengah
Middle Income Trap pada akhirnya juga merupakan persoalan mengenai bagaimana suatu bangsa memperlakukan geografinya. Negara dapat terus mengekspor hasil tambang tanpa membangun teknologi pengolahan. Negara dapat memiliki tanah subur tetapi mengimpor pangan. Negara dapat berada di jalur pelayaran dunia tetapi tidak menguasai logistik. Negara dapat memiliki panas bumi tetapi tetap tergantung pada energi fosil. Negara dapat mengalami bencana berulang tanpa membangun industri mitigasi dan teknologi ketahanan. Dalam keadaan seperti itu, geografi memang menghasilkan pendapatan. Tetapi tidak menghasilkan transformasi.

Untuk keluar dari Middle Income Trap, kekayaan geologi harus diubah menjadi kemampuan teknologi; posisi maritim menjadi industri dan jasa; risiko bencana menjadi keunggulan dalam mitigasi; serta bonus demografi menjadi produktivitas.

Penduduk yang besar bukan otomatis kekuatan. Banyaknya manusia tidak serta-merta membentuk armada produktif. Tanpa pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan pekerjaan berkualitas, bonus demografi hanya menjadi antrean panjang memasuki pasar kerja.
Demikian pula kekayaan alam.

Bijih tidak mengolah dirinya sendiri. Abu vulkanik tidak mengelola pertanian. Laut tidak membangun pelabuhan. Selat tidak otomatis menciptakan pusat logistik. Letak strategis tidak dengan sendirinya menghasilkan kemakmuran.

Geografi memberikan kartu yang berbeda kepada setiap negara. Tetapi kualitas institusi menentukan bagaimana kartu itu dimainkan.

Singapura memainkan kerentanannya. Jepang memainkan keterbatasan sekaligus risiko bencananya. Korea memainkan urgensinya. Tiongkok memainkan skalanya.
Indonesia masih terlalu sering memainkan slogannya.

Erupsi Anak Krakatau seharusnya tidak hanya mengingatkan pada ketakutan masa lalu. Ia juga mengingatkan bahwa bangsa ini hidup di atas bumi yang tidak pernah sepenuhnya diam—bumi yang dapat mengguncang, tetapi juga menyuburkan; yang dapat menghancurkan, tetapi juga menyimpan energi, mineral, keindahan, dan kehidupan. Karena itu, jawabannya bukan meratapi geografi. Bukan pula menyepelekan bahayanya. Jawabannya adalah membangun manusia, ilmu pengetahuan, institusi, dan teknologi yang mampu hidup bersama risiko sekaligus mengolah manfaatnya.
Geografi bukan takdir. Ia adalah tawaran.

Indonesia dapat tetap menjadi negeri yang rawan bencana dan kaya sumber daya. Atau menjadi negara tangguh yang mengubah keduanya menjadi kemampuan. Indonesia dapat tetap menjadi negara yang dilewati dunia. Atau menjadi negara tempat dunia berlabuh, berproduksi, berinvestasi, dan menciptakan nilai. Laut dapat terus dipandang sebagai jarak. Gunung dapat terus dipandang sebagai ancaman.
Atau keduanya akhirnya diperlakukan sebagai sumber kehidupan, perekat Republik, dan jalan keluar dari jebakan pendapatan menengah.
LDT

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *