Berita ini sungguh terjadi, meskipun suasananya kadang mirip reuni keluarga besar. Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-81 dibuka di New York pada 8 September 2026, sedangkan debat tingkat tinggi dimulai pada 22 September.
Menurut laman resmi PBB, tema tahun ini adalah “Restoring trust, managing transformation: a United Nations that delivers for all”—memulihkan kepercayaan, mengelola perubahan, dan menghadirkan PBB yang bekerja bagi semua. Hampir 130 kepala negara dan pemerintahan dijadwalkan hadir.
Tema itu terdengar sangat diplomatis. Jika diterjemahkan ke bahasa grup WhatsApp keluarga, kira-kira bunyinya: “Mari kita rukun kembali karena persoalan semakin banyak dan grup ini sudah terlalu lama hanya dipakai untuk berdebat.”
PBB memang menyerupai grup keluarga terbesar di dunia. Anggotanya 193 negara. Ada yang rajin berbicara, ada yang hanya membaca pesan, ada yang datang ketika namanya disebut, dan ada pula yang tidak pernah setuju tetapi juga tidak pernah benar-benar meninggalkan grup.
Setiap tahun mereka berkumpul di New York. Semua memperoleh giliran berpidato. Setiap pemimpin menjelaskan bahwa negaranya mencintai perdamaian, menghormati hukum internasional, dan menginginkan dunia yang lebih adil. Seusai pidato, sebagian kembali mendukung perang, mengirim senjata, menutup perbatasan, atau menggunakan hak veto.
Dalam keluarga biasa, ini disebut tidak konsisten. Dalam hubungan internasional, istilahnya “kepentingan strategis”.
Tahun ini persoalan yang dibawa ke ruang pertemuan tidak ringan: perang, perubahan iklim, ketimpangan, krisis kemanusiaan, serta kecerdasan buatan yang berkembang lebih cepat daripada kemampuan manusia menyepakati aturannya.
Dalam pidato terakhirnya di hadapan Sidang Umum sebagai Sekretaris Jenderal, António Guterres kembali menyerukan penghentian perang, pengawasan risiko kecerdasan buatan, penanganan perubahan iklim, dan reformasi lembaga-lembaga internasional.











