Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen 2027: Indonesia Butuh Investasi, Produktivitas, dan Industrialisasi (3-Habis)

Lukita Dinarsyah Tuwo
Lukita Dinarsyah Tuwo

Tidak semua program prioritas perlu menjadi PSN.
Kalau semuanya strategis, pada akhirnya tidak ada yang benar-benar strategis.
PKPN menentukan apa yang harus difokuskan. PSN membantu menentukan apa yang harus dipercepat.
Jangan Lupa Tagihan 2026
Ada satu hal yang tetap perlu dicermati. APBN 2027 boleh terlihat sehat, tetapi kekuatan posisi awalnya bergantung pada bagaimana APBN 2026 ditutup.

Perlu transparansi mengenai kemungkinan kewajiban yang belum sepenuhnya diselesaikan, seperti kurang bayar atau cicilan Dana Bagi Hasil, kompensasi subsidi, pembayaran kepada BUMN, kewajiban kontraktual, atau pengeluaran lain yang pembayarannya bergeser.

Bacaan Lainnya

Kalender dapat berganti. Tagihan tidak otomatis kehilangan alamat.
Karena itu, sebelum terlalu nyaman melihat ruang fiskal 2027, perlu diketahui fiscal carry-over position dari 2026: berapa kewajiban telah diselesaikan, berapa yang belum, berapa yang dijadwalkan ulang, dan berapa yang akhirnya harus menggunakan ruang fiskal tahun berikutnya.

Jika carry-over cukup besar, belanja yang seharusnya mendukung pertumbuhan dapat ikut tertekan. Jalan akses KI bisa tertunda, dukungan KEK berkurang, program vokasi tidak mencapai skala yang dibutuhkan, atau transfer ke daerah semakin sempit.

APBN mungkin tetap terlihat sehat di atas kertas.
Tetapi seperti menerima gaji pada awal bulan, angka saldo baru terasa lengkap setelah kita membuka daftar autodebet.

Delivery Adalah Mata Rantai yang Sering Hilang
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan gagasan mengenai cara mencapai pertumbuhan lebih tinggi. Investasi perlu dipercepat, KI dan KEK harus dihidupkan, produktivitas dinaikkan, vokasi dan pelatihan diperkuat, industrialisasi diperdalam, ekspor diperluas, dan APBN digunakan sebagai katalis.

Masalah yang lebih sering kita hadapi adalah mata rantai setelah strategi selesai ditulis.
Strategi harus menjadi portofolio, portofolio harus menjadi proyek dan kebijakan, setiap proyek harus memiliki penanggung jawab dan milestone, setiap hambatan harus memiliki mekanisme eskalasi, dan setiap keputusan harus mempunyai tenggat waktu.

Planning → financing → execution → debottlenecking → production → outcome.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *