Menurut Wendi, program ini sejalan dengan roadmap pemerintah pusat yang menargetkan Batam sebagai kota percontohan (pilot project) implementasi jargas secara menyeluruh.
“Pulau Batam diharapkan menjadi kota pertama yang seluruhnya menggunakan jaringan gas bumi,” katanya.
Ia menambahkan, jika program ini berhasil, pemerintah berpotensi menghemat anggaran subsidi energi hingga Rp79 Miliar per bulan se-Kota Batam.
Model Batam nantinya dapat direplikasi ke kota-kota besar lain di Indonesia yang dinilai lebih tepat menggunakan jargas dibandingkan LPG subsidi.
Meski demikian, Wendi menegaskan bahwa LPG 3 kilogram tidak akan dihapuskan dari Indonesia. Distribusinya akan dialihkan ke daerah-daerah yang benar-benar membutuhkan dan belum terjangkau jaringan gas.
“Begitu satu kota terpenuhi jargas, maka LPG 3 kilo bisa digeser untuk saudara-saudara kita yang selama ini belum mendapatkan fasilitas gas,” ujarnya.
Program jargas ini merupakan bagian dari kebijakan nasional di sektor energi yang dijalankan PGN bersama pemerintah dan Pertamina. Wendi berharap dukungan media terus berlanjut agar masyarakat memahami manfaat program tersebut secara utuh.
“Kalau ini sukses, bukan hanya sukses PGN, tetapi sukses pemerintah dan masyarakat. Peran media sangat penting untuk menyampaikan informasi yang edukatif dan dewasa kepada publik,” tutupnya.(Iman)










