Dan ada pula kesunyian yang justru menyimpan pelajaran lebih dalam daripada seribu kata-kata tentang kerendahan hati.
Sebelum berpisah, saya kembali menyinggung undangan Rakernas III PJS. “Insya Allah, saya hadir di acara Rakernas,” katanya.
Jawaban itu singkat. Tetapi bagi kami, tentu memiliki arti tersendiri. Pagi itu, saya pulang membawa sebuah kesan yang jauh lebih berharga daripada sekadar pertemuan dengan seorang Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Riau.
Saya menyaksikan sebuah potret kesederhanaan yang berjalan tanpa pengumuman. Saya melihat seorang pejabat yang tak merasa perlu membawa seluruh simbol kekuasaannya ke dalam kabin pesawat.
Dan saya menyaksikan seutas tasbih yang seolah menjadi saksi bisu bahwa di tengah perjalanan hidup yang penuh urusan dunia, masih ada ruang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Barangkali, inilah salah satu pelajaran paling indah tentang kepemimpinan: jabatan boleh membuat seseorang dihormati, tetapi kesederhanaanlah yang membuatnya dikenang.
Sebab, pada akhirnya, kebesaran seorang manusia bukan terletak pada berapa banyak orang yang berdiri di belakangnya, melainkan pada seberapa kuat ia menjaga kerendahan hati ketika berada di puncak kekuasaan.
Dan pagi itu, di kursi 1A sebuah pesawat Citilink yang membelah langit menuju Batam, saya menemukan pelajaran itu pada seorang laki-laki bernama Iman Sutiawan. Dengan sebuah ransel hitam, seutas tasbih, dan kesederhanaan yang tak banyak bicara.
