Program ini juga berkaitan dengan SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 9 mengenai inovasi dan infrastruktur, serta SDG 12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Dari sisi lingkungan, efisiensi penggunaan pupuk dan sumber daya dalam kegiatan budidaya turut mendukung agenda SDG 13 terkait penanganan perubahan iklim.
Jika dilihat dari kerangka ESG, program tersebut sekaligus menggabungkan tiga aspek. Aspek lingkungan diwujudkan melalui efisiensi penggunaan input dan pemanfaatan energi terbarukan.
Aspek sosial diwujudkan melalui pemberdayaan perempuan. Sementara aspek tata kelola diperkuat melalui peningkatan kemampuan manajemen dan pengelolaan usaha pertanian.
Keberhasilan penerapan model tersebut di Batam mendorong Perempuan Tani HKTI untuk mengembangkan program serupa di daerah lain. Yogyakarta menjadi salah satu wilayah yang direncanakan sebagai lokasi replikasi berikutnya.
Model yang dikembangkan nantinya akan disesuaikan dengan potensi komoditas, karakteristik wilayah, serta kebutuhan perempuan tani di masing-masing daerah.
Pengembangan program tidak hanya ditujukan untuk memperluas pemanfaatan teknologi pertanian, tetapi juga membangun ekosistem agribisnis perempuan dari sisi produksi, pengelolaan usaha hingga peningkatan nilai ekonomi hasil pertanian.












