KABAREKONOMI.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah mendorong peningkatan kapasitas produksi industri manufaktur nasional untuk memperkuat kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Salah satu strategi yang disiapkan adalah mengoptimalkan pemanfaatan kapasitas pabrik yang sudah tersedia tanpa harus bergantung pada investasi maupun pembangunan industri baru.
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menargetkan tingkat utilisasi industri pengolahan nonmigas meningkat dari 66,13 persen pada triwulan II-2026 menjadi 80 hingga 85 persen.
Menurutnya, peningkatan utilisasi menjadi peluang besar untuk mendongkrak produksi nasional, memperluas aktivitas usaha, sekaligus meningkatkan kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian.
Hal tersebut disampaikan Sarmuji dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin Indonesia, Jumat (30/10/2026) lalu.
“Dengan kapasitas terpasang yang ada, kita tidak ngomong ada tambahan investasi, kita tidak ngomong datangnya industri baru. Dengan menambah utilisasi kita dari 66,13 persen ke level yang lebih tinggi lagi, misalkan 80 persen atau 85 persen, kita pastikan kontribusi sektor industri akan lebih besar lagi,” ujarnya.
Namun, pemerintah mengakui peningkatan produksi tidak cukup hanya mengandalkan kapasitas pabrik. Kepastian pasokan bahan baku dengan harga kompetitif, penguatan penggunaan produk dalam negeri, serta penyelesaian hambatan usaha menjadi faktor penting.
Sarmuji mencontohkan persoalan yang dihadapi industri pengguna gula rafinasi. Pelaku usaha dilaporkan masih kekurangan sekitar 15.000 ton gula rafinasi untuk memenuhi kebutuhan produksi hingga Desember 2026.
Jika tidak segera dipenuhi, kekurangan bahan baku tersebut berpotensi mengganggu bahkan menghentikan kegiatan produksi perusahaan.












