Dongkrak Ekonomi Nasional, Pemerintah Genjot Utilisasi Industri dan Substitusi Impor Rp400 Triliun

Kedua indikator tersebut berada di atas ambang batas 50 yang menunjukkan aktivitas industri masih berada dalam fase ekspansi.

“Industri kita saat ini tidak mengalami kontraksi, tetapi justru sebenarnya mengalami ekspansi,” tegasnya.

Bacaan Lainnya

Pasar Domestik Jadi Penopang Industri

Sarmuji menilai besarnya pasar domestik menjadi salah satu kekuatan utama industri Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Dengan jumlah penduduk mencapai 287,2 juta jiwa dan konsumsi rumah tangga pada 2025 sebesar Rp12.834,8 triliun, Indonesia memiliki potensi permintaan yang besar bagi produk manufaktur.

Dalam paparannya, sekitar 78,39 persen produk manufaktur nasional diserap pasar domestik.

Karena itu, pemerintah mendorong penguatan penggunaan produk dalam negeri melalui kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan substitusi impor.

Berdasarkan simulasi BPS yang disampaikan Menperin, setiap Rp1 belanja produk dalam negeri berpotensi memberikan dampak ekonomi sebesar Rp2,2.

Bahkan, substitusi impor senilai Rp400 triliun diperkirakan berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 1,71 persen dan menghasilkan tambahan output ekonomi Rp627,58 triliun.

“Kita ingin industri kita lebih berdaulat, kita ingin industri kita menjadi tuan rumah di negara sendiri,” ujarnya.

Hilirisasi Harus Berlanjut hingga Produk Jadi

Selain meningkatkan utilisasi pabrik, pemerintah juga mendorong transformasi industri melalui hilirisasi yang menghasilkan nilai tambah lebih besar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *