OPINI Lukita Dinarsyah Tuwo : Ekonomi 5 Persen: Terlalu Nyaman dan Betah

Lukita Dinarsyah Tuwo
Lukita Dinarsyah Tuwo

Sebab modal dan tenaga kerja sehebat apa pun akan kehilangan sebagian tenaganya kalau barang memerlukan waktu terlalu lama sampai ke pelabuhan, izin berubah-ubah, listrik tidak pasti, investasi menunggu keputusan terlalu lama, atau kementerian yang satu tidak berbicara dengan kementerian lainnya.

Masalah Kita: Kurang Pembeli atau Dapur Kurang Besar?

Bacaan Lainnya

Di sinilah diagnosis menjadi penting. Kalau selama satu atau dua tahun ekonomi tumbuh hanya 4,5 persen karena masyarakat menahan konsumsi, kredit melemah, atau ekspor jatuh, demand management sangat relevan.

Tetapi kalau selama sekitar dua dekade ekonomi terus kembali ke sekitar 5 persen, kita perlu bertanya lebih dalam.

Mungkin persoalannya bukan semata-mata pedal gas.

Mungkin mesinnya memang hanya mampu berlari nyaman di sekitar kecepatan itu.

World Bank sampai pada diagnosis yang mirip. Pertumbuhan Indonesia dinilai telah stabil sekitar 5 persen, tetapi produktivitas masih ditahan oleh hambatan regulasi, konsentrasi pasar, terbatasnya difusi pengetahuan dan teknologi, pembatasan perdagangan dan lemahnya penciptaan pekerjaan berproduktivitas tinggi.

Dengan kata lain, kita cukup pandai menjaga ekonomi agar tidak jatuh. Tantangannya sekarang adalah membuatnya meloncat.

Ini dua kemampuan yang berbeda. Menjaga stabilitas makro adalah seperti memastikan mobil tidak keluar jalan. Sangat penting. Tetapi untuk memenangkan perlombaan, kita juga memerlukan mesin, pengemudi, bahan bakar, aerodinamika dan pit crew yang lebih baik.

Stabilitas adalah syarat perlu. Tetapi stabilitas bukan mesin pertumbuhan.

Mengapa Tidak Kita Tambah Investasi Saja?

Ada jawaban yang sering muncul: investasi.
Benar.

Tetapi kita perlu berhati-hati dengan penyakit kebijakan yang sangat umum: menganggap semua investasi otomatis produktif. Dalam teori sederhana Harrod-Domar ada konsep bernama ICOR — Incremental Capital Output Ratio.

Namanya terdengar menyeramkan, tetapi maknanya sederhana:
Berapa banyak tambahan modal yang diperlukan untuk menghasilkan tambahan satu unit output?
Semakin rendah ICOR, semakin produktif investasi. Sebagai ilustrasi kasar, jika investasi Indonesia sekitar 31 persen PDB dan pertumbuhan sekitar 5 persen, ICOR berada di sekitar 6.

Kalau efisiensi investasi sama sekali tidak berubah dan kita ingin tumbuh 8 persen, investasi secara aritmetis perlu melonjak ke sekitar 42 persen PDB.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *