Apakah berarti konsumsi tidak penting? Tentu tetap penting. Mesin besar tanpa penumpang juga tidak berguna.
Ketika kapasitas produksi bertambah, harus ada permintaan yang menyerapnya. Karena itu strategi menuju 8 persen bukan mengganti demand side dengan supply side.
Yang benar:
supply dan demand harus tumbuh bersama, tetapi untuk menaikkan plafon pertumbuhan jangka panjang, supply harus terlebih dahulu diperbesar.
Yang paling menarik adalah investasi. Hari ini investasi adalah demand karena seseorang membeli mesin, membangun pabrik atau mengembangkan jaringan digital. Besok investasi menjadi supply karena mesin dan pabrik tadi menambah kapasitas produksi.
Karena itu investasi produktif memiliki dua kehidupan: mendorong permintaan hari ini dan memperbesar kapasitas ekonomi besok.
Hal serupa berlaku untuk ekspor.
Ekspor menciptakan demand dari luar negeri, tetapi perusahaan yang bersaing di pasar dunia juga dipaksa meningkatkan kualitas, teknologi dan produktivitas. Karena itu untuk menuju 6–8 persen, investasi dan ekspor seharusnya menjadi accelerator, sementara konsumsi domestik tetap menjadi anchor.
Apa yang Harus Dilakukan Indonesia?
Kalau diagnosisnya demikian, rekomendasinya juga harus berbeda.
Pertama, ubah orientasi dari mengejar jumlah investasi menjadi produktivitas investasi. Setiap proyek besar harus diuji terhadap tambahan output, produktivitas, ekspor, pekerjaan berkualitas dan keterkaitan dengan industri domestik.
Kedua, dorong investasi swasta tumbuh lebih cepat daripada ekonomi. Pertumbuhan investasi riil sekitar 8–10 persen selama beberapa tahun akan jauh lebih membantu daripada terus mengandalkan konsumsi tumbuh sedikit di atas 5 persen.
Ketiga, jadikan produktivitas sebagai indikator utama pembangunan. Kita terlalu rajin menghitung jumlah proyek, anggaran terserap dan investasi masuk. Mulailah lebih serius menghitung output per pekerja, output per unit modal dan peningkatan produktivitas sektoral.











