Potensi Panen September-November Turun
Perhatian BPS selanjutnya tertuju pada periode September–November 2026. Pada periode tersebut, potensi luas panen padi diperkirakan hanya mencapai 2,23 juta hektare.
Angka tersebut turun 12,97%, atau sekitar 330.000 hektare, dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Dengan proyeksi tersebut, luas panen padi secara kumulatif Januari–November 2026 diperkirakan mencapai 10,56 juta hektare. Angka itu turun 2,98% dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 10,88 juta hektare.
Meski demikian, estimasi 10,56 juta hektare tersebut masih lebih tinggi dibandingkan realisasi pada periode yang sama pada 2023 dan 2024, masing-masing sebesar 9,86 juta hektare dan 9,69 juta hektare.
BPS mengingatkan bahwa potensi luas panen September–November 2026 masih bersifat dinamis. Angka tersebut dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi pertanaman dan panen di lapangan.
Ateng menegaskan bahwa realisasi akhir akan dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), banjir, kekeringan, hingga perubahan waktu panen oleh petani.
Dengan demikian, rendahnya proporsi standing crop pada Agustus menjadi salah satu indikator awal adanya tekanan terhadap luas panen pada akhir 2026. Namun, angka potensi tersebut belum dapat menjadi indikator final luas panen karena masih bergantung pada perkembangan kondisi tanaman dalam beberapa bulan ke depan.
SUMBER: BISNIS INDONESIA











